/nampons/LogoKecil.jpg Paguron Penca Silat Nampon  
Paguron Penca Silat Nampon Sejak 1932
Edisi 7 August 2000
Nampon (Alm) 1888-1962
Pendiri dan guru Ilmu Penca Silat aliran Nampon.dilahirkan di Ciamis.
Nampon berasal dari Banjar kampung Limasnunggal desa Banjar patroman
Berkedudukan/tinggal di Padalarang hingga tahun 1962
Meninggal pada usia 74 tahun di Desa Margajaya Jalan Margajaya Kampung Babakan Caringin desa Margajaya, kecamatan Ngamprah Kota Padalarang dan mendapat penghargaan pemerintah sebagai Perintis Kemerdekaan.
Istri berasal dari Banten
Pegawai perusahaan kereta api dizaman belanda, pada tahun 1902 Setelah belajar
diberbagai perguruan, Nampon belajar di Cianjur kepada Embah Khair pendiri aliran Cimande. Pada 1902, setelah wafatnya guru , Nampon menjadi guru di perguruan Cikalong. Selain belajar, Nampon banyak bergaul dengan pendekar dari berbagai dearah, termasuk Bang Kari dan Bang Madi di Jakarta.
Selama bekerja sebagai pegawai Jawatan Kereta Api Belanda Alm Nampon sudah memperlihatkan sikapnya sebagai anti penjajah, membenci karena sering melihat penderitaan orang sebangsanya di eksploitasi, dan direndahkan.
Dia tidak takut menunjukkan kebenciannya terhadap Belanda, sehingga dicap sebagai pengacau dan dianggap membahayakan Jawatan Kereta Api. Dan akhirnya dilepas dari kedinasannya .
Alm Nampon sejak keluar sering keluar masuk penjara karena tidak takut melawan pihak Belanda.
Justru karena sering masuk keluar bui, Alm Nampon berhasil membuahkan aliran silat bertenaga dalam. 10 jurus gabungan dari seluruh pelajaran dan pengalamnnya.
Aliran Kari dan Madi
Bang Kari dari Jakarta terkenal dengan teknik gabungan "potong" dan sikut yang mampu menjatuhkan lawan, Nampon terkagum pada tekniknya Bang Kari saat dia sedang latihan rapetan dengan seseorang , tatkala tiba tiba Bang Kari menjatuhkan lawannya dengan cara membalas serangan lawan dengan sikut yang melukai berat dan melumpuhkan lawan.
Sedangkan Bang Madi juga asal Jakarta terkenal membalas serangan lawan dengan teknik mematahkan siku lengan lawan dengan Giles.
Aliran Leleusan/Tantungan leleus- Embah Khair
Embah Khair pencipta aliran leleusan.
Gerakan lemas kaki dengan menggantungkan sebelah kaki dengan lemah secara bergantian.
Dari gerakan lambat, kaki bergantian dipercepat gerakannya.
Leleusan dikenal untuk merasakan tenaga lawan tanpa melihat lawan.
Dengan badan berdiri diatas satu kaki yang lemas, suber serangan tenaga lawan dapat dirasakan.Aliran ini juga dikenal dengan timbangan.
Suatu hari seorang Cina datang kedaerah Cianjur, untuk menantang Embah Khair karena didengarnya Embah Khair adalah jagoan "Tanah Jawa".
Merendah dia menolak dan mengatakan didaerah itu tidak ada jagoan.
Karena didesak terus akhirnya dia menerima tantangan.
Berkali kali diserang Embah Khair mengelak. Semakin kesal , Cina tersebut semakin bertubi tubi. Akhirnya Embah Khair mengelak colokan Cina, dan jejarinya Cina menancap dipohon Pinang. Seketika jejarinya dikunci dan badannya diikat oleh selendangnya / kerembang Embah Khair kepohon pinang hinga tidak bisa bergerak.
Cina berteriak minta dilepas dan dibiarkan oleh Embah Khair.
Berjam jam dia meronta ronta hingga akhirnya lemas kehabisan tenaga.
Akhirnya Cina menyerah kalah, dan mulai belajar pada Embah Khair.
Cina bersumpah "7 keturunannya saya tidak akan menyerang orang Indonesia".
Sejak saat itu daerah tersebut dinamakan daerah Cimande.
Dari Embah Khair Uwa Nampon belajar Jurus Gebreg dan Leleusan.
Istri Embah Khair bernama Uyut Ursi memiliki kepandaian penca silat yang sama dengan Embah Khair.
Salah satu keahlian Embah Khair dalam menggali Penca Silat adalah mempelajari gerakan binatang buas termasuk Macan Monyet, sehingga menciptakan aliran Pamacan dan Pamonyet. Embah Khair mengamati bagaimana binatang binatang berkelahi saling membunuh mati kehabisan nafas.
Paguron Penca Silat Nampon didirikan 1932 sebagai rasa syukur
Sejak lama Nampon berniat bahwa apabila dia dianugrahkan anak putra laki laki, sebagai tanda syukur atas lahirnya anak putra pertama, Nampon akan memberikan ilmunya kepada siapapun yang membutuhkannya.
Pesannya "jangan takut dan jangan tidak takut"
Akhirnya pada 1932, sesaat setelah kelahiran putranya yang pertama. Dia berlari ke pasar didepan stasiun kereta api Padalarang yang sedang ramai. Dia berteriak teriak seperti orang yang gila. Berteriak minta dipukuli oleh siapapun, boleh dengan senjata apapun. Disangka gila ada seseorang yang akan memukul & meruntuhkan Nampon. Gagal dipukul dia gunakan golok. Bukannya menaklukkan Nampon, bahkan orang tersebut terpental-pental setiap kali menyerang Nampon.
Menyerahlah orang itu, dan minta belajar kepada Nampon ilmu penca silat Nampon. Itulah murid pertama Nampon. Orang dari luar lingkungan keluarga Nampon sendiri. Sejak itu banyak pesilat dan murid yang belajar silat aliran Nampon. Pada tahun itulah mulai belajar Bapak Setia Muchlis, guru yang turut aktif membina PPSN.
Lahirnya Penca Silat yang berbeda dari lainya
Sejak awal abad 20 tahun 1930an Penca silat di Jawa Barat semakin berkembang subur menjadi terbuka untuk orang luar bukan saja hanya yang berasal dari pesantren pesantren
Berbagai aliran penca silat bertemu di daerah seputar Cianjur Cikalong, Cimande, dan Cikaret. Bercampur saling memperkaya .
Pada masa itu terjadilah pengembangan munculnya penemuan penemuan baru penca silat aliran baru mulai semakin dibicarakan dimasyarakat persilatan termasuk jurus jurus rahasia Cikalong. Alm Nampon karena berasal dari keluarga rakyat biasa tidaklah dicatat dalam buku buku sejarah persilatan .
Ketika kejadian sumpah pemuda 28 Oktober 1928, para tokoh pemuda pejuang bangsa Indonesia yang berada di Bandung banyak yang belajar maenpo (silat). Tidak heran sebab silat selain salah satu kebudayaan bangsa, juga merupakan ketrampilan yang besar manfaatnya untuk menjaga diri. Banyak macam silat di daerah sunda namun dari sekian macam-macam silat namun hanya ada satu silat yang dapat mengungkapkan rahasia tenaga yang berasal dari Cianjur yang dipimpin ajengan RH Ibrahim yang hidup antara th 1840 sampai th 1900 dengan nama silat Cikaretan. Salah seorang muridnya yang berbakat dan disayang yaitu Nampon, bahkan setelah RH Ibrahim meninggal, tinggal Nampon yang meneruskan silat Cikaretan. 
Jurus Gebreg Nampon (Gerakan regenerasi bersama)
Ciptaan Alm Embah Khair diturunkan kepada Uwa Nampon hasil pelajaran Alm Nampon yang puluhan tahun, menghasilkan gerakan yang berbeda dari lain dan berlandaskan sikap pandang Alm Nampon yang khas.
Apabila penca silat yang lainnya merupakan rangkaian gerakan dengan mengangkat kaki
Alm Nampon mencipatkan Gerak langkah merapat kaki selalu ditanah.
Dengan dasar 10 macam gerak penca.
Berlainan dgn jurus penca silat lain, Aliran Alm Nampon berpusat didada sehingga gerak ditangan serasa kosong.
Berorientasi pada kesamaan gerak. Dari seluruh organ anggota tubuh tangan kaki, dada
Tenaga otot dipusatkan di Otot dada dan walikat, dan gerak diakhiri dengan kesamaan tindak laku otot didada tangan kaki sabet digabreg
Dengan dasar yang khas inilah Jurus khas ini akhirnya dikenal dengan sebutan Jurus Gebreg (Singakatan dari gerakan Regenerasi Bersama).
Karena terkenal dengan gaya Penca Silat yang khas dan baru, muncul berbagai sebutan
Ada yang menamakan Ulin nampon, ada juga yang menamakannya Stroom, Timbangan, Spierkracht/tenaga dalam. Nama Spierkracht saat itu banyak dikenal sampai ke Jateng, Jatim sebagai nama penca silat ciptaan Alm Nampon
Sebagai pesilat yang mulai dikenal memiliki tenaga yang aneh, Nampon sering diuji dan ditantang oleh pendekar dari banyak daerah. Suatu hari dia berkunjung ke daerah Tegalega kota Bandung. Sedang bersilaturahmi dirumah kawannya,duduk sambil berdiskusi, tiba tiba masuk seorang tidak dikenal mengaku jawara Banten dan bertanya kepada Tuan Rumah , "Saya mendapat kabar adanya jagoan terkenal dirumah ini, dan saya ingin coba kebolehannya adu ilmu silat saya!".
Nampon yang kecil badan berdiam, mendahului tuan rumah serta mengatakan "saya tidak tahu siapa yang anda maksud, dirumah ini tidak ada yang jago silat". Si jawara Banten berdiam tetap duduk disitu. Saat itu masuk anak kecil yang tidak tahu permasalahan dan naïf, langsung menciumi tangan Nampon serta menyebutkan nama "Eh Uwa Nampon sumping" Orang yang tidak diundang langsung berteriak "Nah kan betul ada jagoan disini, kau Nampon.. pembohong". Seketika menantang" Ayo keluar saya mau bunuh kau pembohong !".
Merendah, berkali kali ditantang Nampon tetap menjawab tidak bersedia. Akhirnya Nampon terpaksa menyanggupi dengan jaminan apabila dia mati, keluarganya akan ditanggung oleh yang menang. Apabila dia kalah maka Nampon tidak perlu menanggung apapun.
Diserang berkali kali tidak mampu mengenai Nampon, semakin panas emosinya dan amarah.
Pada saat yang tepat inilah Nampon mengeluarkan ilmunya dan lawannya terpental jatuh dan tidak bangun lagi pingsan. Setelah sadar, orang tidak dikenal tersebut mengaku kalah, dan minta belajar Ilmu Nampon.
Alm Kiagoes Mahmoed Thamim ?Pendiri Paguyuban Penca Nampon Trirasa Bandung 1902-1982
Dilahirkan di Bandung tahun 1902, Alm Kiagoes Mahmoed Thamim, sejak kecil hobbynya adalah bermain penca silat. Alm KM Thamim setelah tamat sekolah, bekerja di berbagai lokasi di Jawa Barat sehingga berkesempatan belajar di berbagai perguruan termasuk Cikalong, Cikaret, Cimande. Bakatnya sudah terlihat sejak remaja dimana
KM Thamim berani menguji berbagai pendekar yang terkenal di Bandung.
Pernah setelah menikah, isterinya yang melarang dia pergi untuk bertanding.lagi, dengan alasan bekerja, dasar pendekar, dia diam diam pergi menguji seorang pendekar yang mulai dikenal di kota bandung. Pulang pulang dia dimarahi istrinya hingga harus tidur di depan beranda rumahnya, dengan kedua matanya biru habis bertanding.
Sejak 1932 Nampon mengajarkan ilmunya di daerah Ciburial Padalarang. Semenjak itulah silatnya disebut silat Nampon. Dalam pengajarannya dilakukan secara sembunyi-senbunyi agar supaya tidak diketahui oleh Belanda. Pada waktu itu di Bandung ada pendekar yang bernama Tamim Mahmud yang tinggal di Jl. Kopo. Dia sudah berguru dibeberapa perguruan silat dan sudah lazimnya pada waktu itu para pesilat sering mengadu kekuatan. Tamim Mahmud juga sudah menjajal kemampuannya ke beberapa pendekar silat, tetapi tidak ada yang mampu mengalahkan dia. Kebetulan pada waktu itu dia mendengar kabar di daerah Padalarang ada perguruan silat yang berbeda dari yang lain. Tidak ditunggu-tunggu lagi, dia menemui Nampon di perguruannya.
Alm KM Thamim, langsung menyatakan ingin menguji kebolehan Uwa Nampon yang terkenal dengan Spierkrachtnya. Alm Uwa Nampon tersenyum, sambil mempersilahkan KM Thamim menyerangnya. Berbagai serangan selalu berhasil dipatahkan. Pemuda yang bernama KM Thamim, kesal karena tidak merasakan adanya apa yang dinamakan Spierkracht. " Ach...  Memang tidak ada-apa "
Seketika Uwa Nampon Alm menampar KM Thamim yang sedang kesal.
Kaget dan marah karena berhasil kena ditampar, KM Thamim bangkit amarahnya menyerang. Disaat itulah Ilmu Spierkracht dikeluarkan.
Namun bagaimana adu kekuatan berlangsung tidak ada beritanya, yang didapatkan adalah Tamim Mahmud menyerah kalah kepada Nampon.
Demikian luar biasa ampuhnya silat nampon, bagaimana tidak setiap Tamim Mahmud mendekati musuhnya, dia sudah jatuh duluan. Beberapa kali dia jatuh, bangun lagi sambil memasang kuda-kuda, tetapi setiap menerkam atau memukul lawan dia jatuh lagi jatuh lagi. Sampai akhirnya Tamim Mahmud mengakui kekalahannya bahkan selanjutnya berguru pada Nampon tahun 1932.
Selama belajar, Alm Nampon sudah menaruh perhatian besar kepada Alm KM Tamim karena kemahiran dan kemampuannya menyerap Ilmu Nampon. Setahap demi setahap Alm KM Tamim ditingkatkan dari murid menjadi pelatih. Atas sepengetahuan Alm Nampon, Alm KM Tamim diizinkan mulai melatih di beberapa padepokan binaan Alm Nampon di Situ Aksan, Cibadak,Babakan Ciamis, dan di jalan Situsaeur dirumahnya
Embah Lebek. Pada tahun 1937 Alm Nampon akhirnya mengizinkan Alm KM Tamim mendirikan padepokan sendiri dan mengajar dibawah bimbingan Guru Alm Nampon di tempat tinggalnya Uwa KM Tamim sendiri. Sejak saat itu lahirlah Paguron Penca Silat Nampon Trirasa yang kini banyak dikenal dengan Trirasa Jalan Kopo 144. salah satu pengurus paguron Penca Silat Nampon Trirasa adalah Putra Alm KM Tamim yaitu Joesoef Tedjasukmana yang menjabat sebagai Sekretaris pertama Padepokan Nampon Trirasa.
Oleh karena Padepokan Nampon di Padalarang sering diintai oleh Belanda dan dicurigai sebagai tempat kumpulnya pemberontak, pada tahun 1937, Bapak Alm Nampon mengajarkan ilmunya tidak lagi di Padalarang tetapi pindah ke Jalan Kopo 144 (dahulu Situsaeur) tempatnya Alm KM Tamim . Pada waktu itu perguruan sudah menggunakan nama Tri Rasa dengan murid-muridnya kebanyakan dari kalangan mahasiswa.
Bung Karno dan Moh. Natsir 1942
Pada 1942 mahasiswa yang belajar silat ditempat itu kebanyakan mahasiswa THS, Siswa Kweek School, AMS MULO, Arabach School, HBS dan OSVIA. Pada waktu itulah Bung Karno dan Moh. Natsir belajar silat. Namun apa maksudnya Bung Karno belajar silat apakah hanya untuk mengisi waktu saja atau sengaja untuk menjaga diri. Namun yang jelas dia belajar silat bahkan mampu sampai mengeluarkan tenaga dalam.
Kita mengetahui dari sejarah, percobaan pembunuhan beberapa kali yang gagal atas mantan Presiden RI yang pertama, termasuk penembakan saat shalat Jum'at di Mesjid Istana, dan penggranatan di Sekolah Cikini. Ketika ditanya oleh salah satu murid mengenai kejadian itu Uwa Nampon hanya menjawab, "Ya, itulah Ilmu Nampon, dan kamu belajarlah baik-baik Ilmu yang saya ajarkan... In Sya Allah selamat" tutur Nampon kepada muridnya.
Tokoh lainnya yang belajar TRIRASA di antaranya Alm Gusti Husaini ( Dokter spesialis mata), Syarif Jaya (dahulu Dokter di jalan Pungkur) dan Dr Muryani, semua muridnya tersebar di berbagai tempat.
Di zaman Bung Karno dan Moh. Natsir belajar ilmu silat, banyak juga anak-anak yang belajar, dengan demikian yang belajar silat dibagi menjadi dua yaitu golongan dewasa dan anak-anak. Untuk anak-anak sudah di ciptakan silat "kembangan dan buah" seperti umumnya silat yang lainnya yaitu menggunakan kendang. Silat TRIRASA ada 10 jurus, untuk anak-anak dimasukkan unsur-unsur halus yang mengambil dari jurus Sabandar (nama daerah di Cianjur, kenang-kenangan ketika Pak Nampon berguru ke Ajengan RH Ibrahim serta jurus Kari dan Madi (Kari dan Madi, keduanya orang Betawi, sahabat seperguruan Pak Nampon).
Dalam perkembangannya ketika itu banyak kaum terpelajar dan tokoh-tokoh pergerakan yang belajar silat kepada uwa Nampon dengan cara sembunyi-sembunyi karena apabila ketahuan akan ditangkap oleh Belanda. Sedangkan Uwa Nampon sendiripun sebagai tokoh pergerakan telah berani mengambil resiko untuk ditangkap sehingga sering keluar masuk bui. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, banyak serdadu Jepang yang belajar pada beliau.
Sejak Perang kemerdekaan, dan dikarenakan sebagian besar murid Alm Nampon dan KM Tamim menjadi pejuang, dan prajurit, padepokan dibawah binaan Nampon dan Alm KM Tamim dinon aktifkan.
H Setia Muchlis - Pendiri Paguron Penca Silat Kiwari
H Setya Muchlis belajar Ilmu Nampon mulai 1932 dibimbing langsung oleh Uwa Nampon.
Sebagai seorang prajurit beliau sangat memahami arti dari Ilmu Penca Silat Nampon dan manfaatnya bagi keselamatan dan keamanan dirinya. Dibawah ini pengalaman yang paling mengesankan dalam pemanfaatan Ilmu Nampon;
Saat revolusi 1947, sebagai komandan pleton, dalam rangka perlawanan diwilayah bandung selatan, berhasil mengumpulkan senjata dari sisa tentara Jepang.
Kemungkinan karena keberhasilan nya, ada yang iri dan dendam padanya. Dia dan beberapa kawan ditahan untuk diinterogasi oleh TNI di Jl Cihampelas..
Malam hari, saat H Setia Muchlis mau buang air kecil, diluar rumah, dibelakang mendengar suara/bunyi klik beberapa kali. Setelah masuk kembali, ada seorang penjaga menghampiri dan memberitahukan/mengucapkan "Selamat,"
Dari pernyataan penjaga itu dia menyadari bahwa dia hampir mati terbunuh. Sebenarnya saat buang air kecil diluar dia ditembak oleh pengkhianat yang iri hati dan dendam padanya . Memang Allah SWT masih melindunginya dan tembakan itu tidak berhasil karena senjata tidak meletus. Malam harinya, dia dan kawan2 memutuskan kabur. Saat malam hari,jam 03:00 masih ngobrol2. Kawan2 ragu dan ingin membatalkan, H Setia Muchlis yakin bahwa bia dia terus disana, pasti akan dibunuh keesokan harinya. Dengan memohon pada Allah SWT; setelah pasang harkatan, para penjaga tertidur.H Setia Muchlis dan kawan kawan berhasil melarikan diri dan diujung jalan Cihampelas mereka berpisah untuk menghilangkan jejak..
Salah satu pengalaman yang berkesan lainnya adalah saat H Setia Muchlis mendapat tugas disekitar wilayahnya . Saat itu ada laporan mendadak akan terjadi serangan musuh didekat rumah., H Setia Muchlis menyiapkan pasukannya menghadang musuh yang diketahui melebihi kekuatannya di dekat rumah di Suka mukti Bandung Selatan. . H Setia Muchlis menyadari bahwa dia terjepit karena lokasi dia yang terbuka, pasukannya menjadi sasaran empuk tanpa perlindungan dan akan habis dibantai.
Dengan tenang dan pasrah pada Allah SWT , dia menggunakan harkatannya dan segala pengetahuan Ilmu Namponnya. Ketika serbuan tiba H Setia Muchlis menangkis serangan musuh Belanda, mereka memukul pasukannya dengan bertubi-tubi tembakan, serangan mortir dan granat. Semuanya tidak berhasil menembus pertahanan H Setia Muchlis . Akhirnya musuh mundur dan pasukan H Setia Muchlis lolos tanpa korban, dan tidak ada tembakan yang mengenai dia dan pasukannya.
Setelah revolusi selesai?. saat H Setia Muchlis menyebrang jalan, tiba2 motor Harley Davidson akan menabraknya, refleks memasang harkatan. Pengendara dan pembonceng terpelanting sommersault berkali2. Patah tulang. H Setia Muchlis lolos hanya sobek celana.
Beberapa waktu lalu, ada 2 maling tertangkap basah tertidur dihalaman rumah. Mereka masih tertidur saat polisi dating. Begitu pulasnya tidur harus dibangunkan setelah diguyur air.
Kini H Setia Muchlis sebagai Dewan Guru, terus mengabdikan dirinya pada pengembangan agama dan Penca Silat Nampon. Belaiu terus tanpa lelah mendorong para pemuda/I mendalami Ilmu Nampon, dibarengi dengan pendalaman agamanya guna mendapatkan keseimbangan yang baik jasmani rohani dalam menjalani hidup didunia dan akhirat. H Setia Muchlis kini aktif mengasuh lebih dari 10 padepokan di daerah Sukamukti, dan Soreang Bandung Selatan.
Salah satu amanat Uwa Nampon yang sangat dia ingat dan kini dia teruskan kepada segenap murid PPSN untuk dihayati dan amalkan adalah" Lindungilah yang dianiaya dan lindungilah yang menganiaya"
H. Joesoef Tedjasukmana Tamim (Putra Alm KM Tamim)
Bapak Joesoef Tedja Soekmana putra tertua Alm KM Tamim yang pertama kali belajar menari ketika berumur 10 tahun sekarang dosen tari di ASTI/IKI Bandung .
Bapak H Joesoef belajar langsung penca silat Tenaga Dalam dari Uwa Nampon.
Dia dapat disebut adik seperguruan Bung Karno dan Moh. Natsir di perguruan TRI RASA, bahkan adik seperguruan ayahnya yaitu Alm KM Tamim. Pada waktu itu pakaian perguruan TRI RASA warnanya merah putih yaitu bajunya berwarna merah, celana pangsi berwarna putih dan sabuk berwarna hijau.
Tahun 1960 ayah H Joesoef - Alm KM Tamim menghidupkan kembali perguruan
TRI RASA, awalnya pada tahun 1963 jaman KAPPI dan KAMI perguruan TRI RASA ramai kembali, kebanyakan muridnya mahasiswa seperti dari ITB, UNPAD dan UNPAR. Ada juga mahasiswa dari Malaysia, Thailand bahkan Jerman, siapapun diterima cuma syaratnya adalah beragama Islam.
Pembangunan kelembagaan PPSN
Alm Nampon sebagai Guru senantiasa menekankan bahwa Ilmu Nampon perlu dilestarikan, diajarkan kepada mereka yang membutuhkannya secara selektif. Beliau mengutamakan kualitas daripada kuantitas. "Sebarkanlah Ilmu ini keseluruh Indonesia kepada mereka yang membutuhkan" demikian amanat Alm Nampon kepada Alm KM Tamim, yang dipercayakan membina dan membangun padepokan Nampon Trirasa di Jalan Kopo (dahulu Situsauer).
Penca Silat sebagai ilmu secara tradisi diajarkan langsung dibawah bimbingan Guru.
Dimasa lalu Paguron sepenuhnya dibawah pengabdian dan pertanggungan jawaban Guru. Mengelola, melaksanakan, mengembangkan Ilmu sekaligus organisasi dibawah kebijakan Guru. Paguron berkembang subur berkat pengabdian tulus dari para Guru, amal ibadahnya dalam memberi arti dalam kehidupannya sebagai mahluk yang bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Ilmu dan Organisasi menjadi satu.
Perguruan Penca Silat Nampon Trirasa yang banyak beranggotakan mahasiswa, dan pelajar mulai merintis suatu perguruan yang dikelola semakin baik .
Disadari oleh para guru dan anggotanya , bahwa dalam perjalanan waktu perguruan penca silat perlu pengembangan serta penyesuaian tatanan mengikuti perubahan, sehingga mampu senantiasa menempatkan Ilmu Nampon Trirasa bermanfaat bagi masyarakat dan bangsanya .
Alm KM Tamim melihat bahwa dimasa mendatang paguron diharapkan dapat dikelola oleh Guru dan pelatih sebagai penanggung jawab Keilmuan didampingi oleh pengelola Organisasi secara baik, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai luhur serta sikap pandang Nampon. Memutar roda usaha Paguron secara efektif dan efisien, serta standar tatakrama, tatacara dilandasi semangat kekeluargaan, terbuka, saling memajukan, dan saling melindungi. Saling didengar dan saling mendengar. Dengan cara inilah diharapkan bahwa Ilmu Nampon dapat diterus kembangkan oleh para gurunya, secara berkesinambungan dan berkelanjutan sepanjang zaman.
Mulai saat itulah dimulai organisasi Penca Silat Nampon Trirasa.
Paguyuban Penca Silat Nampon Trirasa Bandung - 1940
Sejak pembukaan di tahun 1937, baru pada tahun 1940 disahkan kepengurusan untuk pertama kali.
Dinamakan Paguyuban Penca Silat Nampon Trirasa Bandung
Mulai saat itu, kepengurusan sudah dirintis pengembangan dengan pembagian tugas dan tanggng jawab bersama antara Keilmuan dibawah tanggung jawab Guru didukung Organisasi dengan pengurus lainnya yang terdiri dari murid dan anggota.
Golongan Dewasa & Remaja susunan pengurus adalah :
Ketua: Oedes Sorjana
Wakli Ketua: Koerniali
Sekretaris: Oe Joesoef Tedjasukmana Tamim
Bendahari: R. Entoh Rasidi
Komisaris: Pathi
Guru Jurus & Kembang: Papih Denlop
Bapak Eki
Guru Usik-usikan/Rapatan & Bapak KM Tamim Mahmud
Metode Tenaga Dalam
PERSATUAN PENCA SILAT NAMPON ( P.P.S.N ) 1953
Pada 1 Desember, 1953 organisasi dimekarkan dengan perubahan nama menjadi Pusat PERSATUAN PENCA SILAT NAMPON disingkat P.P.S.N. dengan nama-nama anggota Pengurusnya sebagai berikut :
Pengurus Pusat terdiri dari :
Ketua : Darma Wirama
Wk. Ketua : S. Hardjasomantri
Wk. Ketua : R. Soewirdjo
Sekretaris : R. Soewirdjo
Bendahari : R. Lamria (I), Muchtar (II)
Pembantu2 : 1. R. Gumiwang
2. A. Sambassaputra
3. E. Diraatmadja
4. E. Adung
 Pembantu-pembantu yang bertugas penghubung di daerah-daerah / tempat-tempat :
1. Achmad Basah
13. Wikarta
2. Rd. O. Darmakusumah
14. Atma
3. Tardjian
15. Achmad
4. Tarmidi
16. Karta
5. M. Sukasman
17. Hadji Djarkasih
6. Rachmat
18. Mirta
7. U h I
19. K.M. Tamim
8. Suhadi Wirasubrata
20. Udin
9. Undang Sukria
21. Tjutju
10. Sarodji
22. Chaeroni
11. Soma
23. Aleh Saleh
12. Ms. Oon
24. Oetjoep Joesoef
 
Perguruan penca silat berakar aliran Nampon
Raga Jati di - Banyumas pimpinan Bapak Khaironi, Bapak Harno
Jurus Penyadar - JSP Tegal pimpinan Bapak Wakri
Tanpa Nama - Semarang pimpinan Bapak Achmad Tarmidi,memiliki pemondokan Pondok Baru.
 
RSL - 1999 / 2005 / 2018
Follow us on Facebook  Follow us on Twitter  Follow us on Instagram