SILAT NAMPON MENGUSIR PENYAKIT

December 27th, 2009

Judul : CIAAAT! SILAT NAMPON MENGUSIR PENYAKIT
Sumber : MAJALAH http://www.intisari-online.com
Edisi : NO. 529 TH. XLIV AGUSTUS 2007

CIAAAT! SILAT NAMPON MENGUSIR PENYAKIT

Dunia persilatan identik dengan aju jotos dan tukar tendangan. Namun di Nampon, salah satu aliran pencak silat tradisional asal Sunda, tenaga dalam dimanfaatkan tak hanya untuk pertarungan, tapi juga mengusir penyakit. Ciaaat, ciaaat, sudah banyak lo yang membuktikan.

Penulis: M. Sholekhudin

Hamni, seorang karyawan swasta di Jakarta Selatan, termasuk salah satunya. Sejak kecil, ia mengidap asma sebagai penyakit turunan. Sehari-hari pun ia tak pernah jauh dari obat-obat asma, karena penyakit ini gampang sekali kumat. Jika ada pencetus, asmanya langsung kumat. Karena penyakitnya ini gampang kambuh, ia seringkali kurang istirahat. Badannya kurus kering dan gampang sakit-sakitan.

Bermacam-macam metode pengobatan pernah ia coba, bukan hanya pengobatan medis. “Asma ‘kan memang enggak bisa benar-benar sembuh dengan obat dokter,” katanya beralasan. Olahraga juga ia lakoni dengan maksud agar badannya lebih sehat, sehingga tak gampang terserang asma. Renang ia coba, basket ia mainkan, beladiri juga ia jalani. Tapi hasilnya tidak sebagus yang ia harapkan. Asmanya masih sering kambuh.

Satu kali, atas ajakan seorang kawan, ia memutuskan ikut latihan pencak silat Nampon yang kebetulan tempat latihannya dekat dengan rumahnya. Saat awal mencoba, ia tidak berharap terlalu banyak, karena menyangka Nampon sama saja dengan beladiri fisik yang pernah ia coba. Tiap minggu dua kali ikut latihan bersama. Selain itu, tiap hari ia juga melatih sendiri jurus Nampon di rumah secara rutin.

Ternyata hasilnya di luar dugaan. Tiga bulan pertama sejak ikut latihan, frekuensi kekambuhan asmanya berkurang. Semakin lama berlatih, frekuensinya semakin jarang. Akhirnya, setelah kira-kira setahun menjadi pesilat Nampon, ia bisa mengucapkan good bye kepada penyakitnya itu. Obat asma juga bisa ia tinggalkan seratus persen. Badannya yang dulu kurus kering, kini jadi lebih berisi.

Bekerja di tingkat sel
Seperti aliran pencak silat lainnya, Nampon merupakan ilmu beladiri tradisional asli Indonesia. Nama Nampon berasal dari nama pendirinya, alm. Nampon (1888 – 1962). Tahun 1932, pendekar silat asal Ciamis ini mendirikan perguruan silat Nampon di Padalarang, Jawa Barat.

Pada awalnya, silat Nampon hanya memfokuskan diri pada beladiri fisik. Misalnya, bagaimana cara menjatuhkan lawan dengan menggunakan tenaga dalam. Tapi dalam perkembangannya, tenaga dalam silat ini juga dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan. Baik untuk pengobatan diri sendiri maupun untuk orang lain.

Pemanfaatan tenaga dalam untuk pengobatan, sebetulnya merupakan bentuk penyesuaian diri terhadap zaman yang telah berubah. Dulu, tenaga dalam diperlukan untuk mempertahankan diri ketika diserang lawan. Sekarang, pengertian beladiri dan musuh sudah berbeda dengan saat Nampon didirikan. Musuh manusia zaman sekarang adalah penyakit, stres, rasa takut, dan sebangsanya.

Secara umum, konsep tenaga dalam di silat Nampon tidak berbeda jauh dengan konsep tenaga dalam di aliran-aliran silat lainnya. “Setiap orang itu punya energi potensial di dalam tubuhnya. Dengan berlatih tenaga dalam, energi potensial itu diubah menjadi energi kinetik,” papar Aditiawarman, anggota Nampon Trirasa Jayakarta, pusat latihannya di Kuningan, Jakarta Selatan. Energi potensial ini tersedia di dalam setiap sel tubuh manusia. Energi inilah yang bisa membuat lawan terpental, bahkan sebelum kontak badan. Energi ini pula yang dimanfaatkan untuk tujuan pengobatan.

Konsep dasar pengobatan tenaga dalam Nampon mirip dengan teknik penyinaran radiasi elektromagnetik yang biasa dilakukan di dalam pengobatan kedokteran modern. Tenaga dalam dialirkan ke dalam tubuh orang yang sakit melalui tangan. Prosedurnya sederhana. Pengobat mengalirkan tenaga dalam ke tubuh pasien yang duduk membelakanginya.

Energi tenaga dalam inilah yang bekerja memperbaiki sistem biologis tubuh. Setelah sistem biologisnya diperbaiki, otomatis daya tahan tubuh pun lebih kuat. Metabolisme di dalam tubuh menjadi normal kembali. Penyakit dengan sendirinya akan pergi. Energi Nampon berasal dari tingkat sel dan bekerja di tingkat sel. “Tubuh kita ini ‘kan sebetulnya tersusun dari sel-sel. Kalau selnya sehat, tubuh juga akan sehat. Penyakit-penyakit itu ‘kan sebetulnya gangguan di tingkat sel,” kata David Kurnia, saudara seperguruan Aditiawarman di Nampon Trirasa. Dengan logika inilah, energi Nampon bekerja menyembuhkan asma yang diderita Hamni sejak kecil.

Selain Hamni, masih banyak penderita penyakit lainnya yang berhasil sembuh dengan pengobatan ini. Berdasarkan catatan di klinik pengobatan Nampon di Kuningan, Jakarta Selatan, sebagian besar dari mereka adalah penderita penyakit-penyakit kardiovaskuler (penyakit yang berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah).

David menuturkan, salah seorang anggota persilatan Nampon di tempat itu dulu pernah menderita gangguan double vision (penglihatan ganda). Segala sesuatu yang dilihat akan tampak terbelah menjadi dua bagian. Satu bagian tampak terang. Satu bagian lagi gelap.

Setelah mendapat perawatan di klinik Nampon di bawah terapis Maman Abdurrahman, beberapa bulan kemudian penglihatannya berangsur membaik. Awalnya ia hanya ke klinik sebagai pasien pasif yang datang untuk diterapi. Oleh Maman, ia kemudian dianjurkan ikut latihan silatnya sekalian. Setelah beberapa bulan menjadi pesilat Nampon, gangguan penglihatan ganda yang ia derita sembuh total.

Ada juga pasien yang berhasil mengendalikan kanker paru setelah menjalani terapi Nampon. Kanker ini menyerang paru-parunya sebelah kiri. Karena tindakan operasi sangat riskan dilakukan, si pasien mencoba pengobatan Nampon. Setelah beberapa bulan menjalani terapi, ukuran sel kankernya mengecil. Belum sembuh total, memang. Karena itu, selain tetap ke dokter, hingga saat ini pasien masih terus menjalani terapi Nampon.

Aditiawarman sendiri mengaku, sejak berlatih Nampon, ia tidak mudah jatuh sakit. Sebelumnya, ia gampang sekali terserang flu. Sehabis main golf saja, ia bisa meriang. Tapi itu cerita lama, karena sejak menjadi pesilat, bapak berusia 57 tahun ini merasa lebih bugar. Kebiasaan berlatih pernapasan yang meditatif di Nampon juga membuatnya lebih tenang menghadapi masalah dan stres di pekerjaan.

Sekalian menjadi pesilat
Tentu saja tidak semua penyakit bisa diselesaikan dengan teknik pengobatan Nampon. Banyak juga yang tidak berhasil. “Yang menyembuhkan penyakit itu ‘kan bukan kita,” kata Aditiawarman, seraya menandaskan bahwa Nampon hanya sebuah ikhtiar. Terapis maupun pasien dituntut punya kesadaran bahwa sakit dan sembuh adalah pemberian Tuhan.

Berdasarkan pengalaman, peluang untuk tidak berhasil akan semakin besar jika pasien menderita penyakit tambahan: kurang sabar. Kesabaran merupakan unsur yang sangat penting di dalam terapi Nampon. Soalnya, kebanyakan terapi membutuhkan waktu yang cukup lama sampai penyakit benar-benar sembuh. Jika penyakitnya parah, biasanya dibutuhkan waktu beberapa bulan sampai sembuh. Dalam kasus Hamni, ia butuh waktu sekitar setahun sampai benar-benar bebas dari asma.

Hal ini sering disalahpahami oleh pasien. Terutama oleh mereka yang menganggap pengobatan alternatif sebagai sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan dalam tempo seketika. Banyak di antara mereka yang datang ke klinik satu-dua kali dengan harapan bisa sembuh secepatnya. “Terjadinya penyakit itu biasanya ‘kan melalui proses panjang. Mungkin saja bertahun-tahun. Tidak mungkin sekali datang untuk terapi langsung sembuh,” tandas David.

Berdasarkan pengalaman pula, peluang untuk sembuh menjadi semakin besar jika pasien juga sekalian mengikuti latihan silatnya. Tidak hanya datang ke klinik sebagai pasien. Dengan aktif berlatih silat, efek terapi tenaga dalamnya akan semakin kuat karena pasien langsung mengobati dirinya sendiri dari dalam. Tidak hanya mengandalkan tenaga dalam dari terapis. Selain itu, dengan berlatih tenaga dalam, seorang pesilat Nampon juga dapat bertindak sebagai terapis yang bisa mengobati orang lain. David menjamin, latihan Nampon bisa dilakukan siapa saja.

Agar tingkat kesembuhan bisa diukur dengan jelas, semua pasien yang datang ke klinik selalu diminta untuk melakukan check up di laboratorium. Seperti yang biasa dilakukan sebagai prosedur standar pengobatan dokter. Semua pasien yang datang pertama kali diharuskan membawa rekam medis dari dokter. Ini untuk memudahkan terapis mengetahui tingkat keparahan penyakit, sekaligus memantau kemajuan yang dicapai. Jika ia datang dengan penyakit tumor, maka juga harus memantau ukuran tumornya untuk mengetahui kemajuan pengobatan.

Cara ini sekaligus untuk mencegah pasien merasa sembuh, padahal sebetulnya belum. Pasalnya, kebiasaan semacam ini jamak terjadi di dunia pengobatan alternatif. Setelah sembuh secara klinis pun, pasien tetap disarankan untuk berlatih Nampon. Paling tidak, secara mandiri.

Aditiawarman pernah punya seorang rekan seperguruan yang punya pengalaman buruk. Tidak patut ditiru. Sebelum mengikuti Nampon, ia menderita gangguan payah jantung. Jika sedang mengobrol, ia sering terengah-engah di tengah obrolan. Jika menaiki anak tangga, ia harus berhenti tiap dua atau tiga undak. Ke mana-mana ia tak pernah lepas dari obat dokter yang dikulum di bawah lidah, untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu mengalami serangan jantung.

Awalnya, ia hanya menjadi pasien pasif yang menerima terapi dari Maman Abdurrahman. Setelah tiga bulan menjalani terapi, atas saran Maman, ia memutuskan untuk ikut latihan silat Nampon. Secara berangsur-angsur, gangguan jantungnya berkurang. Setelah beberapa tahun menjadi pesilat, ia akhirnya bisa terbebas sama sekali dari gangguan jantung. Obat jantung dari dokter bisa seratus persen ia tinggalkan.

Celakanya, hal ini kemudian membuatnya lupa diri. Karena sudah merasa sembuh, ia melanggar pantangan dokter dalam hal makan dan gaya hidup. Juga tidak pernah lagi berlatih Nampon. Setelah lama tak terdengar beritanya, tiba-tiba saja ia dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung.

Tentu saja sakit dan mati adalah urusan Tuhan. Tapi bagaimanapun, gaya hidup sembrono karena merasa sudah sembuh sama sekali tidak dibenarkan. “Pantangan dari dokter tetap harus dipatuhi,” kata Aditiawarman. Meskipun sudah sembuh, latihan juga sebaiknya tidak dihentikan begitu saja.

Meraih kesembuhan dan mempertahankan kesehatan memang proses kesinambungan. Selain menyembuhkan, tenaga dalam juga membahayakan: bisa membuat orang sembrono karena merasa sembuh.
-

Menguak Tabir Prana dengan Fisika

April 30th, 2009

Fadli Syamsudin Praktisi dan pengamat perkembangan tenaga prana, staf peneliti TISDA-BPPT

SEBAGIAN masyarakat umumnya masih memandang perguruan yang memfokuskan diri pada tenaga dalam seperti Nampon, Satria Nusantara, Prana Sakti, Sinlamba, dan banyak perguruan sejenis lainnya yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia, sebagai ilmu yang sarat hal mistik dan di luar nalar manusia. Karena itu, keberanian Nampon menyeminarkan fenomena tenaga prana dari sudut pandang ilmu fisika dan menghadirkan guru besar fisika teoretis ITB Prof Pantur Silaban, merupakan hal yang amat positif.

NAMPON dan sejenisnya adalah salah satu kekayaan asli budaya Indonesia yang perlu dilestarikan dan digali eksistensinya.

Ilmu Nampon sendiri berkembang sejak 1932. Tercatat nama besar seperti Bung Karno pernah belajar ilmu ini, saat menjadi mahasiswa THS (sekarang ITB) di Bandung.

Fenomena tenaga prana pada beberapa perguruan sering dikaitkan dengan terpentalnya si penyerang ketika berusaha menyerang seseorang yang memiliki tenaga tersebut.

Guru besar Satria Nusantara (SN) Maryanto (1990), menjelaskan gejala tenaga prana dengan pendekatan teori medan Elektromagnetik (EM). Si penyerang memberikan frekuensinya yang berbanding lurus dengan energi kepada yang diserang. Akibatnya, terjadi penguatan amplitudo yang akan memperbesar energi balik ke penyerang dan menyebabkan gangguan kepada yang bersangkutan, sesuai intensitas energi yang diaktifkan.

PENJELASAN tenaga prana dari sudut pandang ilmiah pada beberapa perguruan sejenis di Indonesia umumnya mengikuti teori gelombang EM di atas, di mana mekanisme penjalaran tenaga prana dijelaskan melalui interaksi berdasarkan jarak (action at distance) yang memerlukan pengertian medan (besaran fisis yang mempunyai nilai di setiap titik dalam ruang) dan gelombang sebagai perantaranya.

Untuk membuktikan kebenaran teori EM, medan energi pada pelaku tenaga prana harus dapat diukur dan dinyatakan secara kuantitatif.

Faktanya, sampai saat ini belum ada hasil ilmiah yang dapat menunjukkan kebenaran ide tersebut, walaupun pendekatan dengan model EM adalah yang tertua dipikirkan manusia sejak dahulu (Cazzamalli, 1925).

Kelemahan penjelasan dengan mekanisme ini terletak pada proses rambatan gelombang EM yang memerlukan jeda waktu, sedangkan fenomena tenaga prana sendiri pada praktiknya tidak terbatas oleh adanya ruang dan waktu.

Dengan demikian, perlu dicari mekanisme yang lebih representatif untuk menjelaskan fenomena tenaga prana. Beberapa ahli fisika dan psikologi mengajukan beberapa konsep seperti Model Entropi dan Proses Acak (Gatlin, 1972), dan Model Perwakilan Ruang Hiper (Feinberg, 1967, 1975).

Bahkan ada yang lebih jauh lagi dengan model yang dinamakan Kecerdikan Jagat Raya (Universal Intelligence). Model ini mengatakan bahwa eksistensi pikiran manusia melingkupi semua ruang dan waktu. Apa yang ingin diwujudkan dalam ruang dan waktu dapat diprogram pikiran manusia.

DARI semua model di atas, penulis tertarik dengan Model Holografik yang dikembangkan pakar fisika David Bohm dan pakar psikologi Karl Pribram (1971,1975,1976). Mereka menyimpulkan bahwa informasi di alam ini bukan merupakan fungsi ruang dan waktu, tetapi dalam bentuk “getaran” yang dalam ilmu Fisika diwakili dengan persamaan gelombang dengan amplitudo dan frekuensi masing-masing.

Kesadaran manusialah yang melakukan “Transformasi Fourier” (sebuah konsep matematika yang dapat memetakan semua proses fisik di alam dalam bentuk frekuensi dan amplituda serta kelipatannya) agar dapat mewujudkan informasi tersebut ke dalam ruang dan waktu.

Penjabaran lebih lanjut model ini adalah kesadaran manusia (pikiran) dapat mengambil semua getaran yang ada di alam. Kemudian melalui proses transformasi tenaga prana, abstraksi dapat diwujudkan ke dalam ruang dan waktu.

Dengan mengikuti perkembangan model fisika di atas, pemahaman pada mekanisme tenaga prana tidak lagi terbatas pada dimensi yang sempit, hanya sebatas ruang dan waktu, melainkan juga pada dimensi yang lebih luas yang menyangkut wilayah esoterik dan dimensi kesadaran yang hanya dimiliki manusia.

Oleh karena itu, diperlukan pengertian ilmu fisika dan cabang disiplin ilmu lainnya yang lebih komprehensif. Dengan kata lain diperlukan sebuah konsep yang dapat menjelaskan segala sesuatu di alam semesta berdasarkan teori tunggal. Teori tersebut dalam ilmu fisika dikenal sebagai A Theory of Everything.

ALBERT Einstein menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun sisa hidupnya untuk membangun teori yang dapat menggabungkan empat gaya dasar yang berlaku di alam semesta: gravitasi, elektromagnetik, dan dua buah gaya nuklir, kuat dan lemah.

Sebuah teori yang diharapkan dapat menjelaskan proses terjadinya “dentuman besar” (big bang) pada awal evolusi, fisika dalam partikel atom dan semua hal-hal mikroskopik. Namun demikian, misi itu sampai akhir hayat hidupnya bahkan sampai saat ini belum juga tercapai.

Kompatriot Einstein berusaha menciptakan teori tersebut dengan menggabungkan teori relativitas (untuk menjelaskan gravitasi) dan fisika kuantum (untuk gelombang elektromagnetik dan 2 gaya nuklir, kuat dan lemah).

Dua hal yang saling berlawanan, yang satu berkisar pada hal besar seperti galaksi, quasar, dan yang satunya lagi hal kecil di dunia sub-atomik, hal yang diskrit seperti paket energi disebut kuanta, ternyata gagal setelah 50 tahun berusaha mewujudkan A Theory of Everything.

DEWASA ini para pakar fisika berusaha mendekatinya dengan pendekatan lain. Ada Stephen Wolfram dengan teori Automata Selular dan Michio Kaku dengan pendekatan perwakilan ruang Hyperspace.

Dalam kaitannya dengan pemahaman pada beberapa model yang telah dipaparkan sebelumnya, mungkin buku Michio Kaku (1994) yang berjudul Hyperspace: A Scientific Odyssey Through Parallel Universes, Time Warps and the Tenth Dimension, dapat menjelaskan mekanisme tenaga prana lebih baik lagi dalam usaha perumusan teori di atas.

Kaku mendapatkan idenya dari penemuan Einstein tahun 1915 yang mengatakan bahwa alam semesta terdiri dari empat dimensi: ruang dan waktu yang berkembang. Kelengkungannya menyebabkan “gaya” yang disebut “gravitasi”.

Kemudian Theodore Kaluza pada tahun 1921 meneruskan riset Einstein tersebut dan mengatakan bahwa riak pada dimensi ke “lima” dapat dilihat sebagai “cahaya”.

Bagaimana dengan dimensi yang lebih besar dari lima?

Kaku memperkenalkan teori yang disebut “superstring”. Jadi kelengkungan yang terjadi pada ruang dan menyebabkan gravitasi merupakan paket kecil dari “string yang “bergetar” dan “beresonansi”.

Demikian juga cahaya yang merupakan riak dari dimensi ke-5 adalah komponen “string” lainnya. Dengan begitu, empat gaya dasar tadi dapat digabungkan dan peristiwa di dalamnya menjadi dimensi yang lebih besar: 10 dimensi.

Dengan 10 dimensi itu Kaku berhipotesis bahwa semua proses yang terjadi sehari-hari-termasuk fenomena tenaga prana-dapat dijelaskan.

PERKEMBANGAN ilmu fisika belakangan ini bahkan tidak berhenti hanya pada 10 dimensi, masih ada dimensi yang lebih besar lainnya. Banyak konsep bermunculan, seperti pendekatan dengan teori membran dan sebagainya yang semakin menuju pada hasil unifikasi gaya-gaya yang mengatur seluruh alam semesta.

Semua penjelasan ilmiah yang dibentangkan dalam artikel ini pada intinya adalah meyakinkan bahwa di luar panca indera yang terbatas, masih ada dimensi yang lebih tinggi dan belum dieksplorasi dan dirasakan.

Cara berpikir dan bekerja sensor manusia, terbiasa dalam lingkup ruang dan waktu (empat dimensi). Pada kenyataannya, pikiran manusia tidak terbatas hanya pada ruang dan waktu tersebut.

Sudah saatnya ilmu pengetahuan dan teknologi mengarahkan risetnya pada hal-hal yang “esoterik” yang dulu dikatakan sebagai “meta-rasional”, seperti adanya konsep aura, orbs, dan tenaga prana. Dengan demikian, tenaga prana dan metoda penyembuhan yang menggunakan media ini serta segala aspek aplikasinya bisa dikuantifikasi secara ilmiah bila A Theori of Everything telah ditemukan.

Pada saat itu, tenaga prana akan terbuka tabirnya dan bukan lagi merupakan hal mistik, seperti anggapan sebagian masyarakat saat ini.

KOMPAS – Juni 2003

Sejarah Tenaga Dalam Indonesia

April 14th, 2009

(Dari berbagai sumber)

SEJARAH TENAGA DALAM INDONESIA

Banyak Perguruan ataupun pribadi yang menawarkan pelatihan-pelatihan tenaga dalam. Namun tak banyak dari mereka yang paham sejarah tenaga dalam itu sendiri. Memang perkembangan tenaga dalam Indonesia tidak diimbangi kepedulian dalam penelusuran asal-usul, siapa tokoh yang menciptakan dan mengembangkannya. Bahkan sebagian besar dari perguruan itu berupaya menyembunyikan sejarah dari mana pendiri perguruan itu belajar tenaga dalam. Ada juga Guru yang sengaja mengarang sejarah layaknya cerita yang di-dramatisir untuk mendongkrak nama dan “omset penjualan” perguruannya.

Berikut ini adalah hasil temuan kami atas pengamatan dan penelusuran sejarah Tenaga Dalam di Indonesia.

Tenaga dalam (versi Indonesia) identik dengan ilmu yang mampu menghalau lawan dalam keadaan amarah/emosi dari jarak jauh. Lazimnya, bela diri jenis ini digali melalui olah napas, jurus dan pengejangan pada bagian tubuh tertentu (dada/perut). Terkadang pula disertai ajaran spiritual.

Perkembangan sejarah tenaga dalam di Indonesia diwarnai oleh 4 tokoh penting. Yaitu Muhammad Toha pendiri Sin Lam Ba (Jakarta), Anandinata pendiri Margaluyu (Bandung), H Abdul Rasyid pendiri Budi Suci (Bogor) dan Nampon pendiri Tri Rasa (Bandung).

Pada akhir abad 19 tenaga dalam sudah mulai dipelajari secara terbatas tetapi baru keluar dari “sangkar”-nya pada tahun 1932 ketika Nampon melakukan aktivitas nyleneh di depan stasiun Padalarang. Saking girangnya menyambut kelahiran anak pertamanya, Nampon diluar kesadarannya berteriak-teriak seperti orang gila. Karena dianggap gila, Nampon hendak diringkus beramai-ramai. Namun dari sekian orang yang akan menjamah tubuhnya itu jatuh terpelating.

Nampon lahir di Ciamis pada tahun 1888 dan wafat tahun 1962. Semula adalah pegawai di jawatan kereta api di jaman Belanda. Ia dipecat dan berulang kali masuk bui karena sikapnya yang anti penjajah Belanda. Diantara murid Nampon yang berjasa ikut mengembangkan tenaga dalam adalah Setia Muchlis dan KM Tamim yang kemudian mendirikan perguruan TRI RASA yang banyak diikuti kalangan Mahasiswa di Bandung, diantaranya murid itu adalah Bung Karno dan M Natsir.

Dari Nampon

Menurut kalangan pendekar sepuh di wilayah Jawa Barat, sebelum memperkenalkan “jurus tenaga dalam“ Nampon banyak belajar ilmu dari pendekar yang lebih senior. Ia pernah berguru pada Abah Khoir pencipta silat Cimande, dan pendekar-pendekar asal Batavia diantaranya Bang Madi, Bang Kari, Bang Ma’ruf juga H Qosim pendekar yang diasingkan kerajaan Pagar Ruyung, Padang karena mengajarkan silat di luar kerajaan.

Kini ketika perguruan tenaga dalam menjamur hampir di seluruh kota dengan bendera yang berbeda-beda (walau corak jurus dan oleh napas serupa), kemudian muncul pertanyaan, dari mana asalnya ilmu tenaga dalam dan siapa tokoh yang pertama kali menciptakannya?

Sidik, murid dari H Abdul Rosyid pendiri aliran Budi Suci yang banyak menyebarkan aliran ini di Jawa dan Sumatra, pada tahun 1985 mengatakan bahwa jurus tenaga dalamnya diwarnai keilmuan Abah Khoir dan Nampon. Begitu halnya dengan aliran yang banyak berkembang di Jawa Tengah, seperti Ragajati di Banyumas, JSP (Jurus Seni Penyadar) di Tegal dan beberapa aliran di Semarang.

Yosis Siswoyo Guru Besar aliran Bandar Karima Bandung saat dikonfirmasi, mensinyalir bahwa kemunculan tenaga dalam di wilayah Jawa Barat secara terbuka memang terjadi pada masa Nampon sepulang dari penjara Digul.

Namun demikian Yosis tidak berani memastikan pencipta jurus tenaga dalam itu Nampon seorang, mengingat pada masa yang hampir bersamaan, di Batavia/Jakarta juga muncul aliran Sin Lam Ba dan Al-Hikmah, bahkan pada tahun yang hampir bersamaan, di daerah Ranca Engkek Bandung Andadinata memunculkan ilmu tenaga dalam yang diklaim asli hasil pemikirannya sendiri.

Aliran Andadinata ini kemudian dikenal dengan nama Marga Rahayu namun kemudian dirubah menjadi Margaluyu dan mulai dikenalkan pada pada khalayak pada tahun 1932, tetapi pada tahun 1922 aliran itu sudah diperkenalkan dalam lingkup yang terbatas.

Anandinata konon memiliki beberapa murid, diantaranya Dan Suwaryana, dosen ASRI yang juga wartawan di Yogyakarta. Dari Dan Suwaryana ini kemudian “pecah” (berkembang) lebih dari 17 perguruan tenaga dalam besar yang kini bermarkas di kota gudeg, Yogyakarta, diantaranya Prana Sakti yang dikembangkan Aspanuddin Panjaitan.

Menurut berbagai pihak yang dapat dipercaya, perguruan yang terinspirasi oleh Prana Sakti itu, diantaranya : Prana Sakti Indonesia, Prana Sakti Jayakarta, Satria Nusantara, Perdawa Padma, Radiasi Tenaga Dalam, Kalimasada, Bunga Islam, Al-Barokah, Indonesia Perkasa, Sinar Putih, Al-Barokah, Al-Ikhlas, dll.

Para Wali

Konon, keilmuan yang ada pada Margaluyu itu sendiri memiliki silsilah dari para Wali di tanah Jawa, yang apabila diruntut yaitu dari Syekh Datul Kahfi – Prabu Kian Santang / P.Cakrabuana (Setelah masuk Islam dikenal sebagai Sunan Rahmad Suci Godong Garut) kemudian ke : Sunan Gunung Jati dan dari beliau turun ke Anandinata.

Hingga kini sejarah tenaga dalam masih misteri, siapa tokoh yang pertama kali menciptakannya. Para pinesepuh juga tidak memiliki refrensi yang kuat berkaitan dengan sejarah perguruan dan pencetusnya.

Dari kalangan Budi Suci atau perguruan yang mengambil sumber dari aliran yang didirikan H Abdul Rosyid ini setidaknya ada 3 nama tokoh yang disebut-sebut dalam “ritual” yaitu Madi, Kari dan Syahbandar (atau disebut Subandari, tetapi bernama asli H Qosim).

Tentang nama Madi, Kari dan Syahbandar sebagaimana disebut diatas, memang banyak mewarnai keilmuan Nampon, namun keilmuan itu lebih bersifat fisik, karena dalam catatan “tempo doeloe” Madi dan Kari belum memperkenalkan teknik bela diri tenaga dalam (pukulan jarak jauh).

Baik Madi, Kari dan Syahbandar dikenal sebagai pendekar silat (fisik) pada masanya. H. Qosim yang kemudian dikenal sebagai Syahbandar atau Mama’ Subadar karena tinggal dan disegani masyarakat desa Subadar di wilayah Cianjur. Sedangkan Madi dikenal sebagai penjual dan penjinak kuda binal yang diimpor asal Eropa.

Dalam dunia persilatan Madi dikenal pakar dalam mematah siku lawan dengan jurus gilesnya, sedangkan Kari dikenal sebagai pendekar asli Benteng Tangerang yang juga menguasai jurus-jurus kung fu dan ahli dalam teknik jatuhan.

Pada era Syahbandar, Kari dan Madi banyak pendekar dari berbagai aliran berkumpul. Batavia seakan menjadi pusat barter ilmu bela diri dari berbagai aliran, mulai dari silat Padang, silat Betawi kombinasi kung fu ala Bang Kari, juga aliran Cimande yang dibawa oleh Khoir.

Dari aliran Budi Suci yang keilmuannya konon bersumber dari Khoir dan Nampon, juga tidak berani mengklaim bahwa tenaga dalam itu bersumber (hanya) dari Nampon seorang. Begitu halnya kalangan yang mengambil sumber dari Margaluyu.

Kalangan Budi Suci, menganalisa bahwa Namponlah yang patut dianggap sebagai pencipta, karena dalam ritual (wirid), nama-nama yang disebut adalah Madi, Kari dan Syahbandar (Syeh Subandari), sedangkan nama Nampon tidak disebut-sebut. Ini menunjukkan bahwa inspirasi ilmu berasal dari tokoh sebelum Nampon, walau nampon yang kemudian merangkum dan menyempurnakannya. Namun simpulan itu diragukan mengingat pada masa pendekar Madi, Kari, Sahbandar ini tenaga dalam belum dikenal.

Terbukti, dalam suatu peristiwa saat Madi diserang kuda binal juga mematahkan kaki kuda dengan tangkisan tangannya, dan Khoir guru dari Nampon saat bertarung dengan pendekar Kung Fu, juga menggunakan selendang untuk mengikat lawannya pada pohon pinang. Artinya, jika tenaga dalam itu sudah ada, dan mereka-mereka itu adalah pakarnya, kenapa musti pakai selendang segala? Kenapa tidak pakai “jurus kunci” agar pendekar Kung Fu itu tidak bisa bergerak.

Justru pemanfaatan tenaga dalam itu baru tercatat pada era Nampon tahun 1930-an. Kasus “histeris” saat menyambut kelahiran anaknya di depan stasiun Padalarang, dan pertarungan Nampon dengan Jawara Banten juga saat melayani tantangan KM Thamim yang (setelah kalah) lalu berguru kepadanya.

Yosis Siswoyo (63) dari Silat Bandar Karima (kepanjangan dari Syahbandar, Kari dan Madi) termasuk kalangan pendekar generasi tua di Bandung juga mengakui dari kalangan perguruan pencak silat dan tenaga dalam memang kurang mentradisikan dalam pelestarian sejarah perguruannya.

Walau Yosis menyebut Nampon dan Andadinata sebagai tokoh yang banyak berjasa mengenalkan tenaga dalam di wilayah Jawa Barat, namun kemunculan Sin Lam Ba dan Al-Hikmah di Batavia pada kurun waktu yang hampir bersamaan, (bahkan disinyalir lebih dulu) juga perlu dipertimbangkan bagi yang ingin melacak sejarah.

Tentang Sin Lam Ba, H Harun Ahmad, murid Muhammad Toha guru besar Sin Lam Ba – Jakarta, kepada penulis menjelaskan bahwa pada tahun 1896 Bang Toha yang juga anggota Polisis di zaman Belanda itu menemukan jurus tenaga dalam dari H Odo seorang kiai dari pesantren di Cikampek, Jawa Barat sedangkan Al-Hikmah yang dikembangkan oleh Abah Zaki Abdul Syukur juga bersumber dari Bang Toha bahkan pada awal kali memulai aktivitas perguruannya, sempat bergabung dibawah panji Sin Lam Ba. Namun ketika H Harun Ahmad ditanya tentang dari mana H Odo mendapatkan ilmu itu, ia tak dapat menjelaskannya.

H Harun hanya menjelaskan, aliran tenaga dalam yang kini berubah menjadi nama yang banyak dan berbeda-beda itu, dulunya adalah “Ilmu Tanpa Nama” yang kemudian dikembangkan pencetusnya dengan cara mengadopsi atau menyampur dari berbagai aliran yang pernah dipelajarinya.

Mulai Berubah Fungsi

Melacak sejarah perkembangan tenaga dalam setidaknya dapat ditelusuri dari sejarah berdirinya aliran tenaga dalam “tua” yaitu :

1896 pertemuan M. Toha dengan H. Odo di Cikampek lalu berdiri aliran Sin Lam Ba di Jakarta.

1922 secara terbatas Andadinata mulai memperkenalkan jurus tenaga dalam di daerah Ranca Engkek, Bandung. Dari Andadinata kemudian muncul aliran Margaluyu.

1932 Nampon mendirikan aliran Tri Rasa di Bandung dan H. Abdul Rosyid mendirikan aliran Budi Suci di Bogor.

Penelusuran sementara sejarah perkembangan perguruan tenaga dalam lebih tertuju pada wilayah Jawa Barat dan Batavia sebagai tempat kelahiran aliran tenaga dalam.

Aliran bercorak Nampon menyebar ke Jawa Tengah melalui perguruan Ragajati, JSP (jurus seni penyadar) dan beberapa aliran tanpa nama.

Sin Lam Ba lebih banyak berkembang di wilayah Jakarta, sedangkan Al-Hikmah masuk Jawa Tengah melalui jalur pesantren Bambu Runcing di Parakan Temanggung. Budi Suci yang didirikan H. Abdul Rosyid di Bogor memilih wilayah pengembangan di wilayah pantai utara ke arah timur mulai dari Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikampek, Kuningan, Indramayu dan Cirebon, Semarang, Rembang dan tahun 1983 di Cluwak, Pati Utara. Sedangkan Margaluyu justru berkembang pesat di wilayah Yogyakarta, walau guru yang belajar dari aliran ini kemudian mengganti perguruan dengan nama baru.

Pada tahun-tahun berikutnya, perkembangan perguruan tenaga dalam layaknya MLM (Multi Level Marketing). Seseorang yang belajar pada suatu perguruan memilih untuk mendirikan perguruan baru sesuai selera pribadinya. Ini adalah gejala alamiah yang tidak perlu dimasalahkan, karena setiap guru atau orang yang merasa mampu mengajarkan ilmu pada orang lain itu belum tentu sepaham dengan tradisi yang ada pada perguruan yang pernah diikutinya.

Pertimbangan merubah nama perguruan itu dilatarbelakangi oleh hal-hal yang amat kompleks, mulai adanya ketidaksepahaman pola pikir antara orang zaman dulu yang mistis dan kalangan modernis yang mempertimbangkan sisi kemurnian aqidah dan ilmiah, disamping pertimbangan dari sisi komersial. Yang pasti, misi orang mempelajari tenaga dalam pada masyarakat sekarang sudah mulai berubah dari yang semula berorientasi pada ilmu kesaktian menuju pada gerak fisik (olah raga) karena orang sekarang menganggap lawan berat yang sesungguhnya adalah penyakit. Karena itu, promosi perguruan lebih mengeksploitasi kemampuan mengobati diri sendiri dan orang lain.

Aliran perguruan tenaga dalam yang mengeksploitasi kesaktian kini lebih diminati masyarakat tradisional. Dan menurut pengamatan penulis, perguruan ini justru sering “bermasalah” disebabkan pola pembinaan yang menggiring penganutnya pada sikap “kejawaraan” melalui doktrin-doktrin yang kurang bersahabat pada aliran lain dari sesama perguruan tenaga dalam maupun bela diri dari luar (asing).

Sikap ini sebenarnya bertentangan dengan sikap para tokoh seperti Bang Kari yang selalu wanti-wanti agar siapapun yang mengamalkan bela diri untuk selalu memperhatikan “sikap 5” yaitu : 1. Jangan cepat puas. 2. Jangan suka pamer. 3. Jangan merasa paling jago. 4. Jangan suka mencari pujian dan 5. Jangan menyakiti orang lain.

Dan perlu diingat, perkembangan pencak silat sebagai dasar dari tenaga dalam itu, baik pelaku maupun keilmuannya dapat berkembang karena silaturahmi antar tokoh, mulai dari silat Pagar Ruyung Padang yang dibawa H Qosim (Syahbandar), Bang Kari dan Bang Madi yang merangkum silat Betawi dengan Kung Fu, juga Abah Khoir dengan Cimandenya, RH. Ibrahim dengan Cikalongnya.

Rangkapan Fisik

Setiap perguruan tenaga dalam memberikan sumbangsih tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Margaluyu menorehkan tinta emas sebagai perguruan tua yang banyak mengilhami hampir sebagian besar perguruan di Indonesia, dan cabang-cabang dari perguruan ini banyak berjasa bagi pengembangan tenaga dalam yang ilmiah dan universal.

Sin Lam Ba, Al-Hikmah, Silat Tauhid Indonesia berjasa dalam memberikan nafas religius bagi pesertanya, dan aliran Nampon berjasa dalam memberikan semangat bagi para pejuang di era kemerdekaan.

Terlepas dari sisi positif dari aliran-aliran besar itu, pengembangan aliran tenaga dalam yang kini masih memilih corak pengembangan bela diri dan kesaktian itu justru mendapat kritik dari para pendahulunya.

Pada tahun 1984 Alm. Sidik murid dari H Abdul Rosyid saat berkunjung ke wilayah Pati utara dan menyaksikan cara betarung (peragaan) suatu perguruan “pecahan” dari Budi Suci, menyayangkan kenapa sebagian besar dari siswa perguruan tenaga dalam itu sudah meninggalkan teknik silat (fisik) sebagai basic tenaga dalam.

Artinya, saat diserang mereka cenderung diam dan hanya mengeraskan bagian dada/perut. Kebiasaan ini menurutnya suatu saat akan menjadi bumerang saat harus menghadapi perkelahian diluar gelanggang latihan. Karena saat latihan hanya dengan “diam” saja sudah mampu mementalkan penyerang hingga memberikan kesan bahwa menggunakan tenaga dalam itu mudah sekali.

Mereka tidak sadar bahwa dalam perkelahian di luar gelanggang latihan itu, suasananya berbeda. Dalam arena latihan yang dihadapi adalah teman sendiri yang sudah terlatih dalam menciptakan emosi (amarah).

Cara bela diri memanfaatkan tenaga dalam yang benar menurut Alm. Sidik sudah dicontohkan oleh Nampon saat ditantang jawara dari Banten dan saat akan dicoba kesaktiannya oleh KM Tamim. Yaitu, awalnya mengalah dan berupaya menghindar namun ketika lawan masih memaksa menyerang, baru dilayani dengan jurus silat secara fisik, menghindar, menangkis dan pada saat yang dianggap tepat memancing amarah dengan tamparan ringan dan setelah penyerang emosi, baru menggunakan tenaga dalam.

Pola pembinaan bela diri yang tidak lengkap yang hanya fokus pada sisi batin saja, sering menjadi bumerang bagi mereka yang sudah merasa memiliki tenaga dalam sehingga terlalu yakin bahwa bagaimanapun bentuk serangannya, cukup dengan diam (saja) penyerang pasti mental. Dan ketika mereka menghadapi bahaya yang sesungguhnya, ternyata menggunakan tenaga dalam tidak semudah saat berlatih dengan teman seperguruannya.

Fenomena pembinaan yang sepotong-potong ini tidak lepas dari keterbatasan sebagian guru yang pada umumnya hanya pernah “mampir” di perguruan tenaga dalam. Sidik mengakui banyak orang yang belajar di Budi Suci hanya bermodal “jurus dasar” saja sudah banyak yang berani membuka perguruan baru. Padahal dalam Budi Suci itu terdapat 3 tahapan jurus. Yaitu, Dasar Jurus – Jodoh Jurus dan Kembang Jurus (ibingan).

Karena tergesa-gesa ingin membuka aliran baru itu menyebabkan siswa sering tidak siap disaat harus menggunakan tenaga dalamnya. Dan Yosis Siswoyo dari Bandar Karima memberikan konsep bahwa keberhasilan memanfaatkan tenaga dalam ditentukan dari prinsip “min-plus” yang dapat diartikan : Biarkan orang berniat jahat (marah), aku memilih untuk tetap bertahan dan sabar.

Karena itu pembinaan fisik, teknik bela diri fisik, teknik, kelenturan, refleks dan mental bertarung perlu ditanamkan terlebih dahulu karena kegagalan memanfaatkan tenaga dalam lebih disebabkan mental yang belum siap sehingga orang ingat punya jurus tenaga dalam setelah perkelahian itu sudah usai.

Berdasarkan pengamatan, tenaga dalam berfungsi baik justru disaat pemiliknya “tidak sengaja” dan terpaksa harus bertahan dari serangan orang yang berniat jahat. Dan tenaga dalam itu sering gagal justru disaat tenaga dalam itu dipersiapkan sebelumnya untuk “berkelahi” dan akan lebih gagal total jika tenaga dalam itu digunakan untuk mencari masalah.

Tenaga dalam harus bersifat defensif atau bertahan. Biarkan orang marah dan tetaplah bertahan dengan sabar dan tak perlu mengimbangi amarah. Sebab jika pemilik tenaga dalam mengimbangi amarah, maka rumusnya menjadi “plus ketemu plus” yang menyebabkan energi itu tidak berfungsi. Dan dalam hal ini Budi Suci menjabarkan konsep “min – plus” itu dengan sikap membiarkan lawan “budi” (bergerak/amarah) dan tetap mempertahankan “suci” (sabar, tenang).

Memposisikan diri tetap bertahan (sabar) sangat ditentukan tingkat kematangan mental. Dan pada masa Nampon dan H Abdul Rosyid, tenaga dalam banyak berhasil karena dipegang oleh pendekar yang sudah terlatih bela diri secara fisik (sabung) sehingga saat menghadapi penyerang mentalnya tetap terjaga.

Sekarang semua sudah berubah. Orang belajar tenaga dalam sudah telanjur yakin bahwa serangan lawan tidak dapat menyentuh sehingga fisik tidak dipersiapkan menghindar atau berbenturan. Dan karena tidak terlatih itu disaat melakukan kontak fisik, yang muncul justru rasa takut atau bahkan mengimbangi amarah hingga keluar dari konsep “min-plus”.

Tenaga Dalam Pantura

Perkembangan tenaga dalam di wilayah eks Karisedenan Pati tak lepas dari peran Perguruan Satya dibawah asuhan alm. Soeharto – Semarang.

Satya berkembang di wilayah Pati awalnya dibawa oleh murid Soeharto bernama Subiyanto asal Jepara. Namun Subiyanto kemudian membuat perguruan Mustika. Walau perguruan ini hanya muncul sesaat kemudian tidak terdengar lagi.

Pada akhir tahun 70-an Satya masuk wilayah Pati dengan corak yang saat itu dianggap tabu karena berlatih pada tempat terbuka pada siang hari. Ini berbeda dengan aliran lain yang memilih berlatih secara sembunyi-sembunyi.

Satya lebih mudah diterima masyarakat karena sifatnya yang terbuka, lebih njawani dan tidak bernaung dibawah partai politik tertentu bahkan menerima anggota dari semua agama, walau dalam ritualnya Satya tidak jauh beda dengan aliran Budi Suci yang dikembangkan oleh Bang Ali yang saat itu juga banyak berkembang di Jawa Tengah.

Kesamaan Satya dengan Budi Suci disebabkan alm. Soeharto mengenal jurus tenaga dalam itu berasal dari Yusuf di Tanjung Pinang, dan Yusuf adalah murid dari alm. Sidik, salah satu dari murid H Abdul Rosyid sang pendiri aliran Budi Suci.

Dalam lingkup pergruannya, Soeharto hampir tidak pernah menyebut-nyebut nama Yusuf sebagai sang guru. Ini disebabkan adanya hal yang sangat pribadi berkaitan dengan sang guru yang WNI keturunan itu. Justru Soeharto lebih sering menyebut nama Sidik, walau pertemuan keduanya itu baru berlangsung diawal tahun 80-an.

Ketika beberapa pengurus Satya di Sirahan, Cluwak berhasil menemukan Sidik di Cilincing, Jakarta Utara, lalu diboyong untuk meneruskan pembinaan dari anggota Satya yang saat itu sudah pasif dari berbagai kegiatan perguruan.

Kehadiran Sidik ke Sirahan ibarat meneruskan pelajaran lanjutan yang tidak terdapat pada kurikulum Satya. Selain pembaharuan dalam jurus dasar juga meneruskan pada materi Jodoh Jurus dan Kembang Jurus ciptaan oleh Abah Khoir sang pendiri Cimande dan sebagian sudah digubah oleh H Abdul Rosyid.

Sejarah tentang tenaga dalam perlu diketahui oleh mereka yang mengikuti suatu aliran tenaga dalam. Ketidaktahuan tentang sejarah itu dapat menggiring seseorang bersikap kacang lupa kulit, bahkan memunculkan “anekdot spiritual” sebagaimana dilakukan seorang guru tenaga dalam yang karena ditanya murid-muridnya dan ia tidak memiliki jawaban lalu menjelaskan bahwa orang-orang yang ditokohkan dalam perguruan itu dengan jawaban yang mengada-ada.

Misalnya, Saman adalah seorang Syekh dari Yaman, Madi disebut sebagai Imam Mahdi, Kari adalah Imam Buchori, Subandari adalah Syeh Isbandari. Dan jawaban seperti itu tidak memiliki dasar dan konon hanya berdasarkan pada kata orang tua semata.

Tenaga-Dalam Menjawab Tantangan Zaman

March 30th, 2009

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0902/18/0802.htm.

Tenaga-Dalam Menjawab Tantangan Zaman
Oleh GENDING RASPUZI, S.H.

TENAGA dalam sudah sering kita dengar, tetapi sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai definisi atau hakekat tenaga dalam itu. Ada yang mengaitkan tenaga dalam dengan hal yang bersifat spritual atau bahkan dengan mistik. Ada juga yang mengartikannya sebagai tenaga diri sendiri yang diolah untuk tujuan tertentu, misalnya untuk kanuragan atau kesehatan. Di pihak lain ada pula yang meyakininya sebagai tenaga bantuan dari Yang Mahakuasa. Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa tenaga dalam adalah sesuatu yang dapat menimbulkan kekuatan dan kemampuan luar biasa yang dilakukan oleh seorang manusia. Berjalan di atas bara api, mematahkan berlapis-lapis kikir baja, menghancurkan batu kali, kebal senjata tajam atau melempar lawan dari jauh tanpa menyentuhnya adalah sebagian contoh kemampuan yang diperoleh dengan mempelajari tenaga dalam.

Fenomena tenaga dalam banyak dijumpai di perguruan-perguruan seni beladiri seperti pencak silat, karate, wushu, dan lain-lain yang memberikan materi tenaga dalam kepada murid-murid senior yang sudah dianggap mampu menerimanya. Namun, pada perkembangan dewasa ini, banyak berdiri perguruan-perguruan tenaga dalam yang khusus mengajarkan tenaga dalam dengan berbagai jenis metode. Di samping itu, pendekatan ilmiah dan teori-teori modern mulai diperkenalkan agar tenaga dalam dapat diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Bagaimana tenaga dalam itu dapat timbul, dengan cara apa tenaga dalam tersebut dapat dimiliki oleh seseorang, dan apa sesungguhnya hakekat dan tujuan mempelajari tenaga dalam, adalah hal yang menarik untuk didiskusikan. Untuk mengungkap tenaga dalam sesuai dengan proporsi sebenarnya, pada tanggal 5 Oktober 2002 di Gedung Pusat Bank NISP Bandung akan digelar acara yang terhitung langka yaitu ”Seminar, Workshop tenaga dalam, dan pernapasan. Pembicara yang akan hadir merupakan tokoh dari beberapa perguruan/aliran bela diri yang khusus mendalami ilmu tenaga dalam dan teknik olah pernapasan. Acara ini terlaksana atas kerja sama Duel Martial Arts Enterprise dengan Harian Umum Pikiran Rakyat.

Yang menarik, para peserta akan disuguhi peragaan jurus yang dilanjutkan dengan pelatihan bagi para peserta oleh guru dan praktisi dari perguruan dan aliran tersebut.

Di Indonesia banyak sekali perguruan dan aliran seni bela diri yang melatihkan tenaga dalam secara khusus. Namun, dalam seminar dan workshop kali ini baru bisa ditampilkan lima orang pembicara yang mewakili aliran atau perguruannya, antara lain Tatang Budi Suryana yang akan membahas tentang Taichi, Drs. H. Maryanto dari Lembaga Seni Pernapasan Satria Nusantara, Poerwoto Hadipoernomo atau lebih dikenal dengan panggilan Mas Pung dari Perguruan Pencak Silat Betako Merpati Putih, Drs. H. Indra Abidin dari Perguruan Pencak Silat Nampon, dan Kadar Munandar yang mewakili Maenpo aliran Sabandar dari Cianjur.

Hal yang menarik dari kelima perguruan tersebut, masing-masing dapat membangkitkan tenaga dalam dengan cara mengolah teknik pernapasan, tetapi karena cara pengolahannnya berbeda-beda sesuai dengan karakter dari keilmuannya masing-masing, maka hasil yang diperolehnya pun menjadi tidak sama. Berikut ini gambaran singkat mengenai profil perguruan dan aliran tersebut.

Lembaga Seni Pernafasan Satria Nusantara, merupakan lembaga yang mengembangkan pelatihan olah raga seni pernapasan untuk tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dalam hal ini meliputi aspek mengupayakan kesembuhan dari derita penyakit, maupun meningkatkan stamina dan kebugaran tubuh yang lebih baik. Satria Nusantara didirikan di Yogyakarta pada tanggal 31 Agustus 1985. Untuk lebih memantapkan amal usahanya, pada 11 Agustus 1986 dibentuk Yayasan Satria Nusantara yang kemudian disahkan menjadi Lembaga Seni Pernapasan Satria Nusantara pada 17 Juli 1993.

Selaku pendiri, Guru Besar, dan Pembina, Drs. H. Maryanto sangat serius dalam mengembangkan LSP Satria Nusantara. Berbagai inovasi maupun penyempurnaan kurikulum pelatihan telah banyak dilakukan, sehingga dampak manfaat dari latihan semakin dapat dirasakan oleh anggota. LSP-SN mempunyai ciri : aman, murah, meriah, dan massal.

Untuk realisasi penelitian secara medis, mulai 1 Januari 1991 Satria Nusantara bekerja sama dengan Depkes melalui P4K Surabaya mendirikan Laboratorium P4TD (Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Penghusadaan Tenaga Dalam) di Surabaya.

Setelah selesai 12 hari latihan tahap pertama (pradasar), sudah dapat dirasakan perkembangan kesehatan tubuhnya lebih baik, bahkan beberapa penyakit dapat hilang atau berkurang dalam waktu bersamaan. Hal ini mungkin terjadi karena pelatihan yang memadukan gerak, nafas, dan konsentrasi dapat menormalkan kembali organ-organ dalam tubuh yang mengalami gangguan.

Pelatihan Satria Nusantara dapat meningkatkan antibodi sehingga dapat menyembuhkan dan menangkal berbagai penyakit. Penyakit yang efektif dapat disembuhkan adalah penyakit disfungsional tubuh, yaitu penyakit pada organ tubuh yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti penyakit jantung, liver, ginjal, diabetes, kanker, migrain, tekanan darah, stroke, wasir, dan sebagainya. Juga efektif untuk jenis penyakit psikomatis, seperti maag, sariawan, asma, alergi, stress, sulit tidur, tidak nafsu makan, sembelit, dan sebagainya. Lebih dari itu anggota yang telah memiliki kemampuan peka terhadap getaran, akan mampu membantu orang lain sebagai penghusada atau juru sembuh.

Taichi Chuan, secara harfiah biasanya diterjemahkan sebagai sumber utama seni beladiri. Istilah ‘Sumber Utama’ menunjuk pada konsep Cina mengenai asal dari universal, yaitu prinsip Yin dan Yang. Dalam kenyataannya, simbol umum dari Yin Yang sering disebut sebagai diagram Taichi.

Menurut legenda yang berkembang di masyarakat Cina, pendiri Taichi adalah Chang San-Feng yang diperkirakan hidup antara tahun 1297 sampai 1368. Banyak yang percaya bahwa Chang adalah seorang biarawan Shaolin yang memutuskan untuk meninggalkan kehidupan keagamaannya dan kemudian menjadi seorang Taois. Di Gunung Wudang, dia meninggalkan gaya perkelahian keras yang dipelajari sebelumnya dan kemudian merumuskan gaya beladiri baru berdasarkan kelembutan dan kelenturan.

Chang mengembangkan seni beladiri yang mempergunakan kelembutan dan kekuatan internal untuk mengatasi kekuatan yang kasar. Ia menuliskan kata-kata sebagai berikut: ‘Dalam setiap gerakan, setiap bagian tubuh harus ringan aktif (mudah bergerak) dan terangkai satu sama lainnya. Postur tidak boleh terputus, gerakan harus dilepaskan melalui kaki, diarahkan oleh pinggang dan diekspresikan oleh jari-jari. Gerakan-gerakan yang substansial dan yang tidak substansial harus dibedakan dengan jelas’.

Selanjutnya, Taichi berkembang menjadi berbagai macam aliran (style), antara lain Chen, Yang, Sun dan Wu. Dewasa ini Taichi sudah diterima di berbagai negara di dunia dan menjadi salah satu kategori yang dipertandingkan di dalam kejuaraan Wushu.

Selain sebagai seni bela diri yang andal, Taichi memiliki manfaat lain yaitu membentuk badan yang sehat dan bugar. Apabila melakukan latihan Taichi disertai dengan teknik pernapasan dan sistematika yang benar, dan didampingi oleh pelatih yang ahli, maka seseorang bisa merasakan lebih bersemangat atau segar setelah berlatih dan tidak merasa lelah.

Daya konsentrasi akan menjadi lebih baik, demikian juga dengan daya ingat dan daya tangkap akan menjadi lebih cepat. Daya rasa tubuh bisa cepat merasakan mana yang cocok dan mana yang kurang cocok untuk kita. Tubuh kita akan mempunyai daya tahan dari segala rangsangan, baik dari luar maupun dari dalam. Daya pengendalian akan lebih baik terutama dalam mengendalikan emosi.

Sesuai dengan amanat kedua orang tuanya agar menyebarkan ilmu warisan keluarga kepada masyarakat, PPS Betako Merpati Putih didirikan oleh Poerwoto Hadi Poernomo dan Budi Santoso Hadi Poernomo (alm) pada tahun 1963 di Yogyakarta.

Tahun 1973, Merpati Putih diundang oleh AKABRI Udara untuk mengadakan penelitian mengenai segi-segi yang menyangkut metode latihan. Penelitian ini ditangani oleh tenaga-tenaga ahli dari Fakultas Kedokteran UGM, antara lain Prof. Dr. Achmad Muhammad. Hasilnya menggembirakan, dan mendorong pengembangan wawasan yang lebih luas bagi Merpati Putih.

Kerja sama untuk penelitian datang dari berbagai pihak seperti kerja sama perguruan dengan Kobangdiklat/Pusjasmil TNI AD di Cimahi tahun 1984, kerja sama dengan rumah sakit Pertamina di Jakarta tahun 1984, bekerja sama dengan YON II 203/Arya Kemuning tahun 1985, bekerja sama dengan UPT Lab Uji Konstruksi BPPT Serpong Tangerang tahun 1986. Di samping mengembangkan aspek beladiri dan olah raga, perguruan ini juga mencoba menyentuh aspek sosial, yakni melalui Yayasan Merpati Putih Abadi yang membuat dan melaksanakan program pembinaan bagi tuna netra sejak tahun 1989.

Merpati Putih merupakan perguruan yang mempelajari metode getaran dalam sebuah latihan yang alami. Dengan mempelajari getaran, seorang praktisi Merpati Putih akan dapat meraih tenaga getar yang kuat. Dengan memiliki kemampuan ini, ia mampu mendeteksi objek-objek yang tersembunyi dan dapat membaca situasi berdasarkan pada energi yang ada di sekitarnya.

Melalui latihan getaran orang tuna netra pun akan mampu membedakan dan mengidentifikasi bentuk, warna, tekstur, arah, kecepatan, volume, dan komposisi berbagai objek. Kini terdapat kurang lebih 3000 orang tunanetra di Indonesia yang telah berlatih Ilmu Getaran Merpati Putih dan mereka dapat hidup mandiri.

Baru-baru ini Singapura telah mengirim beberapa orang tuna netra ke Jakarta untuk mendalami Ilmu Getaran Merpati Putih. Ilmu ini dapat digunakan sebagai orientasi dan mobilitas bagi siapa saja yang kehilangan daya lihat karena kecelakaan atau disebabkan oleh penyakit seperti Glukoma, Retinitis Pigmentosa dan lain-lain.

Seorang anggota Merpati Putih yang terlatih dalam ilmu getaran dapat melakukan pedeteksian radiasi nuklir. Hal ini telah dikaji lebih dalam di BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional) dan hasilnya sangat memuaskan.

Ilmu pengobatan Merpati Putih juga mampu mengobati pasien yang mengalami ketergantungan narkoba, bahkan pasien yang telah diobati akan menjadi alergi terhadap narkoba. Jumlah pasien yang telah sembuh saat ini ada 20 orang. Proyek ini telah berlangsung di Semarang dan didukung oleh Pemda Jateng dan sudah masuk dalam APBD tahun 2001.

Nampon atau lebih dikenal dengan nama panggilan Uwa Nampon sudah dikenal sejak jaman sebelum kemerdekaan, terutama di kalangan tokoh-tokoh persilatan di Jawa Barat. Nampon lahir di Ciamis Jawa Barat tahun 1888, pernah bekerja di Jawatan Kereta Api (PJKA) kemudian pindah ke daerah Padalarang.

Menurut riwayat, Nampon pernah berguru pencak silat kepada R.H. Ibrahim, pendiri pencak silat aliran Cikalong Cianjur. Selain itu, ia juga mempelajari bermacam-macam aliran pencak silat, termasuk ilmu tenaga dalam yang pada waktu itu dikenal dengan istilah penca gebreg. Ilmu yang diperolehnya itu oleh Nampon kemudian digabungkan menjadi jurus-jurus baru yang kini dikenal dengan nama Jurus Nampon. Di PPS Nampon, tenaga dalam yang telah digabungkan dengan Jurus Sabandar, Kari, Madi disebut Jurus Halus, sedangkan Jurus Peupeuhan dinamakan Jurus Keras. Istilah yang sering digunakan di lingkungan Nampon untuk tenaga dalam adalah spierkracht. Kracht merupakan daya yang ditimbulkan dengan jalan senam atau jurus pernapasan.

Sejak tahun 1932, Nampon mengajarkan ilmunya di daerah Ciburial Padalarang Jawa Barat, di antara murid-muridnya banyak terdapat tokoh-tokoh kemerdekaan. Untuk lebih memudahkan silaturahmi antara murid-murid Nampon, pada 21 Juni 1993 di Jakarta dibentuk Paguron Penca Silat Nampon (PPSN). PPSN terus berkembang dengan pesat terutama di Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur dan daerah-daerah lainnya di luar Jawa. Murid-muridnya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat mulai dari kalangan usahawan, selebritis, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Perguruan ini memiliki materi pelajaran yang sangat praktis dan efektif untuk mempertahankan diri dari serangan lawan baik dari jarak dekat maupun jarak jauh. Selain materi pelajaran tenaga dalam dan jurus-jurus pencak silat, diberikan pula pelajaran teknik pengobatan melalui ilmu tenaga dalam.

Aliran Sabandar diciptakan oleh Mohammad Kosim seorang perantau yang berasal dari Pagarruyung Sumatera Barat yang berkelana sampai ke Pulau Jawa. Ia sempat tinggal di Jakarta dan pada akhirnya sampai di Kampung Sabandar Cianjur dan menetap di sana. Nama Aliran Sabandar diambil dari tempat tinggal penciptanya yaitu Kampung Sabandar Cianjur.

Pelajaran seni beladiri aliran ini, pertama kali diketahui dan dipelajari oleh Rd. H. Enoh, murid generasi pertama dari Rd. H. Ibrahim yang masih merupakan kemenakannya. Sejak saat itu, kerabat-kerabat yang belajar kepada Rd. H. Ibrahim juga mempelajari Aliran Sabandar ini sehingga mulai saat itu di Cianjur pada umumnya sudah dianut dua aliran pencak silat yaitu aliran Cikalong dan aliran Sabandar.

Jurus pokok yang terdapat di dalam Maenpo Aliran Sabandar ada lima, yang di dalam aplikasinya setiap jurus dapat dikembangkan lagi sesuai dengan kondisi lawan saat itu.

Di dalam aliran Sabandar yang dikembangkan oleh Aa Aman, Cikaret, Cianjur, keadaan lawan yang menyerang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu lawan yang menggunakan kekuatan penuh, lawan yang menggunakan kekuatan setengah, dan lawan yang tidak menggunakan tenaga. Menghadapi ketiga macam keadaan tersebut, maka seorang praktisi Sabandar akan mengantisipasinya dengan tiga cara pula, yaitu dengan cara pangkat (awal), tengah, dan tungtung (akhir). Proses belajar diterapkan dengan cara bertahap, mulai dari mempelajari jurus secara benar, perkelahian jarak dekat dengan metode tempelan menggunakan teknik-teknik yang bersifat fisik, sampai dengan menghadapi lawan dari jarak jauh dengan menggunakan tenaga batin. Namun, karena Sabandar mempelajari cara perkelahian jarak jauh, banyak yang mengatakan bahwa Sabandar adalah perguruan atau aliran tenaga dalam.

Dengan diselenggarakannya Seminar dan Workshop Tenaga Dalam dan Pernapasan, diharapkan wawasan masyarakat terhadap ilmu tenaga dalam dan pernapasan akan semakin luas, dan yang paling penting peranan para praktisi tenaga dalam dan pernapasan harus dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

(Penulis adalah Redaktur Majalah ”Duel”).

Pencak Silat

March 28th, 2009

Dengan segala mistik dan misteri, pencak silat melayari gelombang globalisasi.

Sumber Oleh : Seno Gumira Ajidarma

Dengan segala mistik dan misteri, melayari gelombang globalisasi.

Matahari belum lagi muncul ketika di tepi pantai itu sejumlah orang berbusana serba hitam tampak bersila dengan posisi tangan tertentu. Pandangan mata mereka terarah dengan tajam ke cakrawala, tempat matahari itu nanti akan muncul. Pantai itu merupakan bagian dari sebuah kampung di Kota Ternate, Maluku Utara. Tampak perahu-perahu nelayan, dan pada pagi itu orang-orang kampung yang melakukan kegiatannya sehari-hari di pantai tidak tampak terlalu heran.
Lantas matahari pun muncul. Sekian pasang mata dari orang-orang yang bersila itu tidak berkedip. Cahaya kuning merambat dan melenting sepanjang permukaan laut dan menyapu wajah-wajah mereka. Anjing lewat berjingkat. Ketam berlari di atas pasir. Namun konsentrasi mereka sama sekali tidak terganggu. Sampai tiba saat mereka, hampir secara bersamaan, merasa semua itu sudah cukup. Maka mereka akhiri sikap tubuh itu dengan suatu tarikan nafas panjang, gerak tangan tertentu, yang lantas dihembuskan dengan hentakan.

“Huuuah!”

Apakah yang sedang mereka lakukan? Itulah yang disebut menyerap energi matahari. Salah satu metode latihan perguruan silat Elang Emas yang diajarkan oleh guru mereka, Lukman Syaifullah Poli, 55. Bagaimana hal itu bisa dianggap akan benar-benar menyerap energi ke dalam tubuh? Sebaiknya pertanyaan ini kita tunda sampai mendengar cerita selanjutnya. Malam sebelumnya, dalam kegelapan ruang latihan, saya juga telah menyaksikan apa yang disebut menyerap tenaga api. Dalam ruang latihan, artinya rumah keluarga biasa yang meja kursinya dipinggir-pinggirkan, para murid perguruan yang sama berkonsentrasi menatap nyala lilin, juga dalam sikap tubuh dan tangan yang sama seperti ketika berlatih di pantai.

Selain menyerap energi matahari dan api, mereka juga melakukannya dengan cahaya rembulan pada malam bulan purnama setiap tanggal 15, 16, dan 17. Benarkah ini latihan pencak silat, dan bukan aliran kepercayaan tertentu? Tentu saja perguruan Elang Emas adalah sebuah perguruan pencak silat, yang di Maluku Utara disebut silap, dan tidak dimaksudkan untuk lebih dari itu. Namun apa yang disebut silat tradisional, di mana pun tempatnya di Indonesia, memang bukanlah sekadar seni beladiri maupun olahraga yang mempelajari jurus-jurus belaka. Bahkan dalam hal Elang Emas, demikian kata Lukman, “Dengan tenaga bantuan, seseorang yang belum pernah belajar jurus apapun seketika dapat bersilat ketika diperlukan.”

Tidak sekadar bicara, keberadaan yang disebut ‘tenaga bantuan’ ini diperagakan. Seorang muridnya diminta bermeditasi di tengah ruangan, dengan sikap yang sama seperti ketika berada di pantai. Lukman juga tampak berkonsentrasi, meski tetap duduk di kursi, bahkan tangan memegang rokok yang menyala. Hanya sejenak.

“Itu sudah masuk,” katanya kepada saya.

Sang murid mendadak melompat bangkit dan bergerak dengan jurus-jurus silat. Sepintas seperti latihan silat biasa, tetapi jika diperhatikan sungguh-sungguh berbeda. Selain bahwa matanya terpejam, murid satu ini bagaikan tidak menjadi dirinya sendiri. Desah nafasnya terdengar terlalu jelas, dan matanya yang terpejam itu bukan tidak berakibat. Ia bersilat dengan gerakan silat-harimau, seperti bisa dilihat dari jurus-jurusnya, kadang menendang tembok, naik kursi, dan menabrak rak tempat hiasan di dinding sampai berantakan di lantai.

Apakah yang terjadi? “Dia seperti diajak bermain silat,” ujar Lukman, tentang apa yang sebetulnya dilihat sang murid dengan mata terpejam. Peragaan ‘tenaga bantuan’ ini diulangi sekali lagi, jika tadi dengan murid lelaki, kini dengan murid perempuan, yang kali ini memperagakan silat-kera, yang juga sampai melompat naik ke atas kursi, juga dengan mata terpejam dan nafas terdengar jelas. Tentu ada pertanyaan, tidakkah murid-murid ini sudah mempelajari jurus-jurusnya dan bersandiwara? Memang bisa diandaikan betapa jurus-jurus pernah dipelajari, tetapi bagaimana dijelaskan lompatan yang tepat dengan mata terpejam ke atas tepi meja, tanpa pernah kehilangan keseimbangannya?

Bagi saya, yang kemudian mengetahui cara murid ini bersilat dalam latihan tanding, jelas silat yang dimainkannya dengan mata tertutup ini jauh berbeda. Bukan sekadar dari kematangan dan keunikan geraknya, melainkan karena memang mustahil dimainkan seorang pelajar silat muda tingkat pemula. Itulah gaya bersilat yang mengingatkan saya kepada gaya Jackie Chan dalam film Drunken Master, yakni bersilat seperti orang mabuk yang seolah-olah selalu mau jatuh! Namun hal itu bukan saja tidak pernah terjadi, bahkan daya pukulnya terlihat menghentak keras sekali.
“Kalau Bapak menceritakan semua ini nanti di Jakarta,” kata Lukman, “mungkin tidak ada yang akan percaya.” Menurut Lukman, bahkan ‘tenaga bantuan’ ini bisa diminta maupun dikirim dari tempat yang jauh. Istilah Lukman, “Tranfer jurus lewat alam mimpi.” Saya teringat, waktu murid-muridnya disadarkan Lukman, mata mereka mengerjap seperti terbangun dari tidur panjang yang penuh mimpi. Pada gilirannya, murid-murid pada tingkat tertentu bahkan seperti telah memiliki ‘tenaga bantuan’ ini di dalam dirinya. Meskipun begitu, pada dasarnya ‘tenaga bantuan’ ini diandaikan dapat dimanfaatkan siapapun tanpa belajar.

Sepanjang liputan saya, dari ujung timur Ternate sampai ujung barat Tanjung Pinang di Riau, dengan berbagai nama yang berbeda, mulai dari ‘isi’, ‘roh’, ‘dia’, ‘datuk’, ‘guru’, bahkan juga ‘setan’, gejalanya adalah sama: Belajar ilmu silat bukanlah sekadar belajar menghafal dan mematangkan urutan jurus-jurus sebagai olahraga, apalagi demi kepentingan kesehatan, melainkan sebagai seni beladiri, dalam pengertian bahwa ancaman serangan sangat mungkin berlangsung dengan ‘ilmu gaib’. Nah!

Dalam kenyataannya, di dunia persilatan, apa yang disebut ‘gaib’ itu adalah sesuatu yang sangat biasa. Mistik, jika boleh disebut begitu, merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam budaya pencak silat tradisional di Indonesia.

***

Ia tergeletak di sana dalam keremangan kamarnya, di sebuah rumah dengan bangsal besar yang mengingatkan saya kepada bangsal tempat bertarung Michelle Yeoh dan Zhang Ziyi dalam film Crouching Tiger, Hidden Dragon. Pada dindingnya terdapat lukisan batik besar seekor naga, yang memang memberikan suatu suasana kepada bangsal itu. Inilah ruang latihan perguruan silat Naga Pertapa Indonesia di Samarinda. Pendirinya, Maidin Hamid, 58, telah mempelajari pencak silat yang di Pulau Kalimantan disebut sebagai kuntao atau kuntauw, dari ayahnya, yang juga telah mendapatkannya dari kakeknya, sebagaimana memang biasa berlangsung dalam dunia pencak silat tradisional, yakni bahwa ilmunya diwariskan turun temurun.

Namun bukanlah seluk beluk rahasia ilmu silatnya itu yang menarik diceritakan di sini, melainkan bahwa sang guru dengan rendah hati masih terus menerus mencari ilmu, dalam suatu pengembaraan panjang selama tiga tahun lamanya berkeliling Indonesia. Apakah sang guru silat belum puas dengan status dan ilmunya sebagai suhu? “Bukan ilmu silat lagi yang saya cari, tetapi ilmu-ilmu,” ujar Hamid, yang terpaksa tidur terus begitu karena sempat salah urat di tulang belakangnya, ketika mengangkat pot tanaman yang sangat berat.

Jadi, dengan mengendarai Vespa, dari tahun 2003 sampai 2006, Maidin Hamid tidak sungkan-sungkan bertandang dari guru yang satu ke guru yang lain di seluruh Indonesia, meskipun jika guru yang ingin ia pelajari ilmunya itu lebih muda. Belajar apa saja? “Ya apa saja kemampuan mereka, terutama dalam ilmu pengobatan,” ujarnya. Maidin berkisah, misalnya ia berhenti untuk makan di sebuah warung, maka ia akan bertanya-tanya siapakah kiranya orang yang dianggap ‘pintar’ di daerah tersebut. Dalam kebudayaan tradisional, seperti diketahui ‘pmtar’ takberarti ia seorang intelektual, melainkan seseorang yang dianggap menguasai ilmu gaib di luar nalar. Jika pertanyaannya terjawab, maka ia titipkan skuternya di warung tersebut, dan mendatangi calon gurunya.

“Kalau orangnya betul-betul pintar, dia sudah tahu maksud kedatangan kita, seperti tadi saya sudah tahu maksud kedatangan sampean; dan kalau dia guru yang bener maka persyaratan yang dimintanya dari seorang murid tidak akan aneh-aneh, seperti minta kambing segala macam; yang begini pasti saya tinggal,” kisahnya. Belajar ilmu gaib seperti itu tidak lama. “Kalau disuruh puasa, ya saya turuti puasa; nanti kalau sudah diisi, dia akan bilang ‘sudah’ dan saya berangkat lagi,” ujar Maidin. Demikianlah Maidin menjalani ritus pengembaraan dan mencari ilmu dalam dunia persilatan ini, sambil memperkenalkan perguruannya di setiap tempat yang disinggahinya, yakni membagi stiker Naga Pertapa Indonesia. “Kalau capek, saya berhenti, parkir, dan menggeletak begitu saja di tepi jalan,” kisahnya, lagi, “terus nanti kalau ada orang lewat yang teriak, ‘Itu orang hidup atau orang mati?’, saya jawab, ‘Orang hidup!’”.

Kisah Maidin Hamid adalah ilustrasi tentang bagaimana tradisi budaya pencak silat di Indonesia, ternyata masih dihidupi secara tradisional juga. Sepintas lalu, kalau melihat jaket blue-jeans yang dikenakannya selama naik Vespa keliling Indonesia, yang bagian depannya nyaris tertutup emblem dan badge warna-warni, kita hanya berhadapan dengan seorang bikers yang sangat menikmati hidup. Namun seperti semua guru silat lain, Maidin sangat serius jika berbicara tentang mempertahankan pencak silat sebagai kekayaan budaya Indonesia. “Jenis beladiri yang kita pelajari ikut membentuk kepribadian kita,” ujarnya, “jenis beladiri tertentu, kalau kita pelajari bisa membuat kita berangasan dan selalu ingin berkelahi; sebaliknya, pencak silat seolah-olah membuat kita jadi pengecut, karena perkelahian selalu kita hindari.”

Adapun perkelahian itu harus dihindari, bukan sekadar karena alasan moral, seperti alangkah mulianya sikap mengalah dan sejenisnya, melainkan karena jurus-jurus pencak silat sebagai beladiri setahu mereka berbahaya sekali. Jika tidak mematikan, sedikitnya menyakiti. “Tidak heran jika IPSI mengatur mana jurus yang boleh dan tidak-boleh,” tambahnya. IPSI adalah singkatan Ikatan Pencak Silat Indonesia yang berdiri sejak 1948, yang dengan gagasan keindonesiaannya, merupakan usaha pendekatan modern terhadap budaya tradisional ini, yang tentu saja menuntut berbagai penyesuaian kepada yang ingin bergabung ke dalamnya. Salah satunya, tentu, bahwa sebagai olahraga IPSI tidak membenarkan keberadaan jurus mematikan dan penggunaan unsur ‘gaib’ dalam pertandingan. Namun bahkan IPSI pun mempertahankan agar budaya pencak silat tradisional itu tetap hidup mengarungi zaman.

***

Sampai hari ini, dalam dunia pencak silat tradisional, tradisi hubungan guru dan murid pada dasarnya masih sama. Sebutkanlah seperti yang saya liput di wilayah Lintau, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pertama-tama sudah menjadi adat bahwa anak lelaki dalam keluarga, diandaikan sudah semestinyalah dapat bersilat untuk melindungi anggota keluarga yang perempuan. Ilustrasi untuk itu sangat menarik, seperti diceritakan Lazuardi, 60, guru pencak silat tradisional yang di wilayah Sumatera Barat disebut silek tuo dari aliran Kumango. “Biasa dikatakan kepada anak lelaki, ‘Engkau mesti belajar silat, jika tidak, bagaimana engkau akan melindungi adik perempuanmu dari para penggoda?’ Sebaliknya, juga akan dikatakan, ‘Engkau mesti belajar silat, jika tidak, bagaimana engkau akan melindungi dirimu, dari pukulan keluarga calon istrimu?’” Pada masa lalu, perasaan cinta seorang lelaki agaknya diekspresikan dengan lalu lalang di muka rumah perempuan yang telah membuatnya rindu dendam.

Penguasaan pencak silat sebagai bagian dari upacara kehidupan, dengan begitu betul-betul mendapatkan maknanya. Maka seorang ayah akan membawa anak lelakinya ke hadapan seorang guru pencak silat, menyerahkannya untuk diberi pelajaran, yang artinya juga menyerahkannya untuk diberi ‘isi’. Lantas sang guru, seperti disampaikan Sutan Ibrahim Datuk Mustafa, 70, guru terakhir silat Lintau, akan menyebut penyerahan syarat-syarat yang semuanya mempunyai arti simbolik, yakni pisau (agar melekat manfaatnya), beras 1 kilogram (agar jangan membebani), pisang (untuk ke-manis-an), kain putih (untuk kesucian), ayam, yang setelah disembelih darahnya akan diteteskan sekeliling gelanggang (supaya jangan terdapat perpecahan antar murid). Lazuardi menambahkan, upacara semacam itu sekaligus mengikat gurunya untuk bersumpah, bahkan, Menurut Qur’an”, bahwa ia akan menurunkan seluruh ilmunya.

Memang terdapat mitos dalam dunia pencak silat tradisional, bahwa seorang guru tidak akan pernah menurunkan seluruh ilmunya. Mitos ini juga terhubungkan dengan cerita, bahwa tak jarang setelah pelajaran selesai, seorang murid malah mencoba ilmunya itu dengan menantang gurunya. Menghadapi kasus semacam itu, “Kalau punya tujuh, kasihkan lima,” ujar seorang guru. Jadi menghadapi murid yang ‘murtad’, sang guru masih memiliki jurus rahasia. Tradisi lain, berbeda dengan perguruan silat modern, latihan tertentu, terutama momen pemberian ‘isi’, pada perguruan silat tradisional tidak boleh disaksikan orang luar. Kerahasiaan memang merupakan salah satu ciri.

Masalahnya, meski setelah sang guru bersumpah, apakah dengan begitu lantas seluruh ilmu diturunkan kepada semua murid tanpa seleksi? Secara tradisional, proses itu memang ada. Pertama, akan ditanya dulu murid itu, silatnya nanti untuk apa, dan akan ditekankan kepadanya betapa dia nanti harus jadi orang yang selalu mengalah, karena silat itu merupakan ‘pemelihara’ diri. Kedua, akan dilihat watak sang murid, yang diperiksa lewat ilustrasi berikut: Sang guru akan mengajak mereka ke hutan, dengan masing-masingnya membawa parang. “Nanti akan terlihat bagaimana masing-masing bersikap ketika memegang parang,” kisah Datuk Mustafa, “apakah ia akan main babat saja segala batang dan semak dengan sembarangan, atau menggunakannya hanya kalau perlu saja.”

Sampai di sini, tidak ada cerita seorang guru meminta bayaran. Jadi memang tidak ada spesialisasi pekerjaan guru silat pada masyarakat tradisional, karena seorang guru silat adalah juga seorang petani, nelayan, penjual tahu, atau apapun yang menjadi sumber penghasilan sehari-hari warga biasa. Bagi yang mampu dapat membayar sukarela, bagi yang tidak mampu takperlu membayar apa-apa. Menurunkan ilmu merupakan kewajiban dalam adat, jika ingin kebudayaannya tetap bertahan, karena silat memang bukan sekadar ilmu beladiri. Sebagai pertunjukan, silat merupakan bagian dari berbagai macam upacara adat yang penting, seperti misalnya perkawinan. Dalam adat Minangkabau, demikian Datuk Mustafa, silat merupakan satu dari tiga tonggak kehidupan manusia, yang terdiri dari beradat, mengaji, dan silek. Namun jika segala macam adat sekarang ini mengalami kelunturan, apakah juga berlangsung dalam dunia pencak silat?

Maka Lazuardi pun berkisah, “Dahulu, yang disebut surau, terbuka bagi semua orang. Di sanalah, berlangsung segala macam bentuk pembelajaran, dari shalat sampai silat. Sekarang tiada lagi surau di kampung kami, diganti oleh musholla, yang selalu terkunci, dan hanya terbuka pada waktu shalat. Belum lagi dengan setiap rumah punya TV sekarang, minat belajar silat dari masyarakat menurun. Anehnya, murid-murid yang datang dari luar negeri makin banyak. Saya punya murid dari Belanda yang akhirnya bahkan masuk Islam. Bangga, tapi juga prihatin.”

Lazuardi adalah contoh betapa untuk bertahan, para pesilat harus sekaligus menjadi pejuang kebudayaan. Adalah Lazuardi yang mengaku hanya lulus SD, tetapi memiliki kesadaran pentingnya dokumentasi, sehingga ia mengusahakan direkamnya jurus-jurus pencak silat Kumango ke dalam DVD. Ini berarti, seharusnya ia pun sudah siap jika pencak silat tradisional yang semula menempatkan guru di tempat yang tinggi, tergantikan tempatnya oleh media rekam tersebut. Tanpa syarat-syarat, tanpa upacara adat, tetapi juga tentunya tanpa “isi”. Apakah ini berarti, sang guru silat harus menjadi penjual DVD? “Dana adalah masalah utama yang menghambat perkembangan pencak silat,” ujarnya, “untuk ketemu Bapak ini misalnya, saya harus meninggalkan ladang cabe. Tapi demi pencak silat, saya menganggapnya perlu.”