/nampons/LogoKecil.jpg Paguron Penca Silat Nampon  
NAMPON DITINJAU DARI ILMU FISIKA DAN ILMU KEDOKTERAN
Pada tanggal 16 Juni 2012 di Hotel Dago Highland Bandung telah diadakan seminar tentang Nampon ditinjau dari ilmu fisika dan ilmu kedokteran, dengan pembicara Dr. Fadli, ahli fisika dari BPPT, dan dr. Ari Widodo, medical doctor.
dr. Ari Widodo memaparkan makalah mengenai anatomi tubuh manusia secara detail dan sistem tubuh serta mekanisme dinamika pergerakan tubuh. Dalam hal ini perlu kita garis bawahi sistem pergerakan otot tubuh diawali dari pusat syaraf (otak besar) ke batang otak-tulang-syaraf dan otot, serta sistem RAS (Reticular Activating System) yang merupakan penghantar impuls/rangsangan luar ke otak. 
Reticular Activating System (RAS) adalah suatu bagian otak manusia yang berupa struktur neuron yang menghubungkan jaringan saraf tulang belakang dan seluruh bagian otak.
RAS mengontrol siklus tidur-bangun, koordinasi respon terhadap rangsangan dunia luar, serta perhatian manusia. RAS juga berfungsi sebagai penyaring (filter) untuk otak. RAS menjaga agar otak tidak overloaded dengan data dan informasi dari kelima panca indera dengan cara memilah-milah, meng-generalisasi, atau membuang data yang tidak sesuai dengan kriteria RAS.
Paparan Dr. Fadli menjelaskan bahwa sistem pembuluh darah, mengikuti hukum-hukum fisika fungsinya, di mana darah merah yang berisi haemoglobin (Hb) mengandung zat besi (Fe) yang merupakan pembawa magnet, di mana pada momen-momen tertentu bisa membangun medan bio magnetic sekitar pembuluh darah menuju ke otak, dan dalam tingkat akumulasi tertentu bisa terbentuk badan energi yang juga berfungsi seperti syaraf magnetik yang ke dan dari otak dengan menyalurkan gelombang bio elektro magnetic dengan frekuensi bisa mencapai 1 Hz yang mampu memancarkan dan menerima informasi ke dan dari jarak jauh dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.
Pikiran sepenuhnya adalah hasil pengolahan di otak besar karena menerima dan menghantarkan rangsangan impuls dari dan ke luar. Dalam keadaan normal gelombang otak ada dalam frekuensi Beta 14-21 Hz per-detik, bila sedang tenang ada dalam frekuensi Alfa (7-14 Hz perdetik) dan kondisi meditasi dalam frekuensi Theta (4-7Hz pendek), yang terakhir frekuensi Delta (1/2 - 4 Hz perdetik) disebut dalam dimensi ke empat. Makin luas permukaan otak makin mampu otak menyalurkan ke arah gelombang Theta maupun Delta.
Nampon
Seperti kita ketahui bahwa ilmu Nampon adalah ilmu buhun yang mencoba mengharmonisasikan kondisi badan, pikiran dan jiwa sehingga terbangun manusia dengan emosi stabil dan berkarakter / mindset yang baik.
Bagaimana ilmu Nampon yang secara fisik melakukan latihan gerak berulang-ulang mampu membangun energi baik outer maupun inner power?
Dalam proses normal, adanya rangsangan dari luar terhadap tubuh kita baik itu gelombang cahaya maupun suara akan diteruskan ke otak besar dan diproses dan timbul reaksi berupa perintah dari otak melalui batang otak ke sumsum tulang, ke syaraf, ujung syaraf, baru ke otot berupa gerakan.
Secara fisika, perintah dari otak berupa impuls-impuls/gelombang listrik yang mengalir melalui syaraf itu terjadi polarisasi dan depolarisasi gelombang elektromagnet yang di ujung syaraf berubah jadi proses bio kimia dan di otot menjadi bio kinetik sehingga menghasilkan gerak dan produk buangan C02 + H20 dan asam yang menimbulkan kelelahan.
Gerakan yang berulang-ulang akan meningkatkan gelombang bio elektro magnetik, memperbesar badan energi dan memperkuat medan bio elektro magnetik.
Pada awal latihan, dengan konsentrasi/ fokus pada satu titik, maka rangsangan cahaya masuk ke otak, terjadi proses di otak dan perintah dari otak berupa impuls atau gelombang elektro magnet yang menyebabkan gerak otot.
Analisa / dinamika mekanisme
Adanya gerakan berulang-ulang gesekan dan diawali konsentrasi pada titik tertentu, serta pemantapan udara (oksigen) secara periodik bukan cuma terbentuk gelombang elektromagnetik yang berubah jadi gelombang biokimia terus menjadi gelombang biokinetik dalam sistem syaraf kita tapi juga terbentuk gelombang elektro magnetik di sekitar pembuluh darah akibat dari terjadinya polarisasi depolarisasi dalam pembuluh darah dan lympha yang menyerupai fungsi syaraf magnetik menuju ke otak / dan keluar dari otak.
Hal ini juga mempengaruhi cairan tubuh lainnya terus terbangun gelombang bio elektromagnetik dari seluruh cairan tubuh, sehingga terjadi badan energi. Adanya fungsi syaraf magnetik yang terbangun dari pembuluh-pembuluh tersebut yang menuju dan keluar dari otak menyebabkan proses peningkatan jumiah sel-sel otak dan bertambahnya luas permukaan otak, dengan demikian akan merubah gelombang otak dari posisi Beta ke Alfa bisa dimungkinkan sampai Theta maupun Delta, tentunya hal ini akan juga merubah kecepatan gelombang elektromagnetik mendekati kecepatan cahaya dengan frekeunsi mendekati 1 Hz.
Dampaknya secara fisik kita akan lebih sensitif, mampu menerima dan menyampaikan informasi dari jarak jauh (telepati, hipnose), dan adanya badan energi yang terbangun akan mampu menahan dan menyalurkan energi dari jarak jauh serta menjadikan badan, pikiran sehat dengan jiwa yang kuat.
Sumber : BULETIN NAMPON SPOT-Edisi Agustus 2012
RSL - 1999 / 2005 / 2018
Follow us on Facebook  Follow us on Twitter  Follow us on Instagram